Karya Bakti TNI di Mentawai: Kolaborasi Akademisi UPI & SeskoAD Perkuat Pembangunan Berbasis Riset
Bupati Mentawai foto bersama, Komandan Kodim 0319/Mentawai, dan lain-lain.
SIGAPNEWS.CO.ID | MENTAWAI -- Program Karya Bakti TNI Angkatan Darat (AD) untuk rakyat, tidak hanya menghadirkan infrastruktur fisik. Tapi juga menghadirkan pendekatan berbasis riset dan akademik.
Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan tim peneliti dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, (UPI), serta para perwira siswa dari sekolah staf dan komando AD, Sesko AD. Tujuannya untuk melakukan kajian mendalam terhadap dampak pembangunan terhadap masyarakat.
Tim peneliti UPI yang terlibat terdiri dari Prof. Dr. rer. nat. Nandi, , M.T., M.Sc., Riko Arrasyid, M.Pd., dan Dadi Mulyadi Nugraha, M.Pd, berkolaborasi dengan personel Sesko AD, yakni Letkol Inf Mansur Kole, S.Ag., M.M., Mayor Arh David Afriliansyah, S.Than., dan Mayor Inf Gafa Aditya Siswanto, S.Than.
"Sinergi ini bertujuan memastikan setiap pembangunan infrastruktur tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat," katanya Jumat (28/8/2026).
Selain itu, tim peneliti dari UPI dan Sesko AD, turun langsung ke lapangan, melakukan peninjauan dan wawancara mendalam kepada masyarakat pengguna serta yang terdampak pembangunan.
Lokasi yang ditinjau antara lain 2 unit jembatan beton.
"Yang pertama di Dusun Katiet, Desa Bosua, dan yang kedua di Dusun Gobik, Desa Bosua, Kecamatan Sipora Selatan dan juga 1 unit jembatan gantung di Desa Beriulou, Kecamatan Sipora Selatan,"katanya.
Keberadaan jembatan-jembatan ini sangat strategis. Karena berhasil membuka akses transportasi antar dusun dan desa yang selama ini terisolasi. PSekaligus memperlancar mobilitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Selain jembatan, program ini juga membangun 4 unit sumur bor di titik-titik strategis. Ada di Kecamatan Sipora Selatan dan Sipora Utara. Seperti di Yayasan Santo Yosef Dusun Sioban, SDN 27 Beriulou, Kantor Desa Bosua, sampai pemukiman warga di Nemnem Leleu Utara.
"Keterlibatan akademisi dalam program ini membuat pengukuran dampak pembangunan jadi lebih ilmiah,"ujarnya.
Prof. Dr. rer. nat. Nandi, S.Pd., M.T., M.Sc., selaku ketua tim peneliti dari UPI, menyebutkan, dari hasil penelusuran lapangan menunjukkan respons positif dari masyarakat atas pembangunan yang dilakukan Satgas Karya Bakti TNI AD.
Salah satu warga penerima manfaat sumur bor di Yayasan Santo Yosef, Dusun Sioban, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam.
'Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden dan seluruh jajarannya khususnya TNI AD atas bantuan yang diberikan melalui Satgas Karya Bakti TNI AD untuk Rakyat. Dengan adanya sumur bor, kami merasa terbantu dalam memenuhi kebutuhan air yang ada di lingkungan gereja," tandasnya.
Sementara itu, pembangunan Jembatan Penghubung di Desa Bosua juga mendapat sambutan hangat dari warga.
Salah satu warga Desa Bosua mengatakan, jembatan ini sangat membantu kami.
"Sekarang kami tidak perlu memutar jalan jauh. Anak-anak sekolah juga lebih aman," tukasnya.
Komandan Kodim 0319/Mentawai sekaligus Dansatgas Karya Bakti, Letkol Inf Bambang Budi Hartanto, menegaskan bahwa jembatan ini adalah kebutuhan vital masyarakat.
"Jembatan ini bukan sekadar penghubung dua wilayah, melainkan jembatan kemajuan ekonomi dan kemudahan akses warga untuk keperluan pendidikan, kesehatan, maupun perdagangan hasil bumi," imbuhnya.
Di lokasi Sumur Bor Desa Beriulou, TIM Peneliti juga meninjau langsung fasilitas yang telah selesai dibangun. TIM bersama para murid SD tampak mencoba fasilitas tersebut dengan mencuci tangan dan membasuh wajah menggunakan air yang mengalir dari sumur bor.
Kolaborasi antara akademisi UPI dan perwira SeskoAD menjadi nilai tambah bagi Program Karya Bakti TNI AD. Tim peneliti tidak hanya mendokumentasikan hasil pembangunan, tetapi juga mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program. Termasuk tingkat partisipasi masyarakat dan kearifan lokal yang masih terjaga.
Selama 2026 TNI AD berhasil merealisasikan 10 titik sumur bor dan 10 unit MCK untuk air bersih dan sanitasi.Dibangun juga 6 unit jembatan, terdiri dari 5 jembatan beton dan 1 jembatan gantung. Ditambah pengerasan jalan 300 meter.Tak hanya itu, ada rehab 10 Rumah Tidak Layak Huni, 1 mushola, 1 gereja, dan 1 sekolah.
Program nonfisik juga dilaksanakan, seperti operasi katarak, sunatan massal, pengobatan gratis, pembagian 1500 paket sembako, dan sosialisasi bela negara.
Kepulauan Mentawai, Rinto Wardana, menyambut baik program ini dan mengapresiasi kontribusi TNI AD, dengan kolaborasi TNI, akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat, Program Karya Bakti 2026 menjadi contoh nyata pembangunan yang tidak hanya fisik, tetapi juga berbasis riset dan berkelanjutan.
"Program Karya Bakti TNI AD untuk Rakyat yang digelar di Kabupaten Kepulauan Mentawai selama 50 hari pada tahun 2026 telah menorehkan hasil pembangunan infrastruktur yang cukup signifikan dan menyeluruh," tandasnya.
Di sektor air bersih dan sanitasi, prajurit TNI AD berhasil merealisasikan 10 titik sumur bor serta 10 unit fasilitas MCK, Mandi, Cuci, Kakus. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan meningkatkan kebersihan masyarakat.
Untuk membuka akses dan mobilitas antar wilayah yang selama ini terkendala geografis, dikerjakan 6 unit jembatan. Terdiri dari 5 jembatan beton kokoh dan 1 jembatan gantung. Ditambah pengerasan jalan sepanjang 300 meter untuk memperlancar arus transportasi darat.
Perhatian besar juga diberikan pada peningkatan kualitas hunian dan fasilitas sosial. Dibuktikan dengan rehabilitasi 10 unit Rumah Tidak Layak Huni, 1 unit mushola, 1 unit gereja, dan 1 unit sekolah.
Selain itu, program nonfisik juga dilaksanakan. Seperti operasi katarak, sunatan massal, pengobatan gratis, pembagian 1500 paket sembako, serta sosialisasi pembinaan kesadaran bela negara dan rekrutmen TNI.
Bupati Kepulauan Mentawai, Rinto Wardana, menyambut baik program ini dan mengapresiasi kontribusi TNI AD,dengan melibatkan tim peneliti dari UPI dan perwira SeskoAD, Karya Bakti 2026 menjadi contoh nyata kolaborasi yang menghasilkan pembangunan tidak hanya fisik, tetapi juga berbasis riset dan berkelanjutan," ujarnya.(*)
Editor :Andry