Harga Ayam Ras Penyumbang Inflasi
Kantor BPS Sumbar, jalan Khatib Sulaiman, Kota Padang.
SIGAPNEWS.CO.ID | PADANG -- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) mencatat perkembangan harga secara umum, mengalami inflansi pada Maret 2026 sebesar 0,04 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Secara tahun kalender ( y-to-d), deflasi sebesar 0,82 persen, dan secara tahunan (y-on-y) terjadi inflasi sebesar 3,37 persen.
Kepala BPS Sunbar, Nurul Hasanudin, mengatakan, kelompok makanan, minuman dan tembakau yang menjadi pemicu utama terjadinya Inflasi m-to-m, mengalami inflasi sebesar 0,19 persen dengan andil sebesar 0,06 persen.
"Dengan komoditas utamanya adalah daging ayam ras. Selanjutnya kelompok transportasi juga memberikan kontribusi yang cukup besar, mengalami inflasi sebesar 0,45 persen dengan andil 0,05 persen dengan komoditas utamanya bensin," katanya, Rabu (1/4/2026).
Selain itu, kelompok pakaian dan alas kaki, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga, kelompok kesehatan, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan; kelompok rekreasi, olahraga dan budaya; dan kelompok penyediaan makanan dan minuman juga mengalami inflasi.
Sedangkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi. Sementara kelompok pendidikan tidak mengalami perubahan.
"Dua kabupaten kota IHK di Sumbar, mengalami inflasi secara m-to-m. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 0,44 persen, diikuti Kota Bukittinggi 0,16 persen. Sedangkan Kabupaten Pasaman Barat dan Kota Padang mengalami deflasi masing-masing sebesar 0,05 persen dan 0,02 persen," ujarnya.
Lebih lanjut disampaikan dalam pers rilis Berita Resmi Statistik (BRS) Sumbar, yang diterima wartawan, Nilai Tukar Petani (NTP) Maret 2026 mencapai 123,15 yang mengalami penurunan 1,30 persen dibanding bulan sebelumnya.
Penurunan NTP ini disebabkan penurunan harga hasil produksi petani 1,47 persen, lebih besar dibandingkan penurunan untuk kebutuhan konsumsi maupun biaya produksi dan penambahan barang modal 0,18 persen.
"Secara umum ini disebabkan penurunan NTP pada subsektor tanaman pangan dan subsektor hortikultura. Sementara itu sub sektor tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan mengalami peningkatan," lanjutnya.
Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Sumbar pada Maret 2026 sebesar 129,02 mengalami penurunan sebesar 1,59 persen. Hal ini disebabkan penurunan harga pada hasil produksi petani mengalami penurunan sebesar 1,47 persen, sementara harga pada penambahan barang modal yang mengalami peningkatan sebesar 0,12 persen.
Tak hanya itu, BPS Sumbar juga mencatat, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pada Februari 2026 tercatat sebanyak 4.571 kunjungan, atau turun 25,14 persen, jika dibandingkan dengan Januari 2026 yang tercatat sebanyak 6.106 kunjungan.
"Secara kumulatif sepanjang Januari- Februari 2026, total kunjungan wisman yang datang melalui BIM mencapai 10.677 kunjungan, turun 34,50 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025," ungkapnya.
Adapun indikator pariwisata selanjutnya yang dirilis adalah Perkembangan Tingkat Penghunian Kamar (TPK). Pada hotel klasifikasi bintang, TPK Februari 2026 tercatat sebesar 37,53 persen, turun 1,52 poin, jika dibandingkan dengan Januari 2026 yang tercatat sebesar 39,05 persen. Sementara itu TPK pada hotel klasifikasi non bintang tercatat sebesar 12,48 persen, turun 1,92 poin jika dibandingkan dengan Januari
2026.
Selanjutnya, jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) tujuan Sumbar Februari 2026 tercatat sebesar 1,69 juta perjalanan, atau mengalami sedikit penurunan jika dibandingkan dengan Januari 2026, yaitu turun 0,17 persen. Secara kumulatif sepanjang Januari-Februari 2026, jumlah perjalanan wisnus mencapai 3,38 juta perjalanan, turun 7,07 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025.
Perkembangan transportasi Indikator selanjutnya yang dirilis BPS adalah perkembangan penumpang angkutan udara melalui BIM. Penumpang penerbangan domestik yang berangkat melalui BIM pada Februari 2026 tercatat sebanyak 57,73 ribu orang, atau turun 21,79 persen jika dibandingkan dengan bulan Januari 2026 yang tercatat sebanyak 73,81 ribu orang.
"Untuk penumpang yang datang pada Februari 2026 tercatat sebanyak 61,25 ribu orang, atau turun 14,52 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, pada penerbangan internasional, jumlah penumpang yang berangkat pada Februari 2026 tercatat sebanyak 17,50 ribu orang, atau turun 17,59 persen dibandingkan Januari 2026," tandasnya.
Untuk penumpang yang datang sebanyak 17,05 ribu orang, atau turun 20,21 persen dibandingkan Januari 2026. Angkutan laut dalam negeri, jumlah barang yang dimuat tercatat sebesar 258,53 ribu ton, atau naik 7,14 persen dibanding Januari 2026. Sementara itu, barang yang dibongkar, pada Februari 2026 tercatat mengalami penurunan, yaitu turun sebesar 6,65 persen jika dibandingkan bulan lalu, dari 244,42 ribu ton
pada Januari 2026 menjadi 228,16 ribu ton pada Februari 2026.
Selanjutnya, keberangkatan penumpang kereta api pada Februari 2026 tercatat sebanyak 151,77 ribu orang, atau turun 12,04 persen dibandingkan Januari 2026. Jumlah barang yang diangkut dengan moda kereta api tercatat juga mengalami penurunan 25,62 persen secara month to month.
Sementara itu, perkembangan ekspor Sumbar sepanjang Januari-Februari 2026 mencapai US$607,95 juta yaitu mengalami peningkatan 42,94 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar US$425,33 juta.
Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mengalami peningkatan 48,75 persen. Sepanjang Januari-Februari 2026, lima negara yang menjadi tujuan utama ekspor Sumatera Barat adalah India (US$178,61 juta), Pakistan (US$121,84 juta), Tiongkok (US$80,90 juta), Mesir (US$71,89 juta) dan Bangladesh (US$55,09 juta).
"Tiga komoditas utama ekspor Januari-Februari 2026 adalah golongan lemak dan minyak hewan atau nabati (HS 15), berbagai produk kimia (HS 38) karet dan barang dari karet (HS 40) yang memberikan share masing-masing sebesar 87,56 persen, 2,78 persen dan 2,78 persen.
Selanjutnya, nilai impor Januari-Februari 2026 mencapai US$130,86 juta, mengalami
peningkatan 110,58 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Andil utama peningkatan nilai impor ini disumbang oleh impor bahan baku atau penolong. Impor bahan baku atau penolong ini secara kumulatif mengalami peningkatan 109,96 persen. Sepanjang Januari-Februari 2026, lima negara yang merupakan negara asal impor Sumatera Barat adalah Singapura (US$76,44 juta), Malaysia (US$21,19 juta), Kanada (US$11,11 juta), Argentina (US$7,83 juta) dan Australia (US$7,26 juta).(*)
Editor :Andry