AKBP Weldi Rozika: Jejak Perwira Muda dari Alai Hingga Tapin, Kapolres Tegas, Humanis, dan Merakyat
Kapolres Tapin, AKBP Weldi Rozika S.IK M.IK
SIGAPNEWS.CO.ID | TAPIN -- Di sebuah pagi yang masih berkabut di Tapin, Kalimantan Selatan, Kapolres Tapin AKBP Weldi Rozika tampak berdiri di halaman Mapolres. Ia tampak tengah berdialog dengan beberapa warga yang datang untuk Jumat Curhat. Senyumnya ramah, bahasanya sederhana, dan gesturnya menunjukkan ketegasan seorang pemimpin yang terbiasa turun ke lapangan. Begitulah sosok Weldi: seorang perwira yang tak ingin sekadar memimpin dari balik meja.
Weldi, perwira menengah yang kini dipercaya memimpin Polres Tapin, dikenal sebagai figur muda Polri yang menggabungkan tiga karakter kepemimpinan: tegas sebagai penegak hukum, tenang dalam mengambil keputusan, dan humanis ketika berhadapan dengan masyarakat. Kombinasi ini menjadikannya figur yang cepat diterima di Tapin.
Sosok Weldi tidak bisa dilepaskan dari lingkungan tempat ia dibesarkan: komplek Asrama Polisi Alai, Kota Padang, Sumatera Barat. Ayahnya, Aiptu Purn Kamarnis, adalah seorang polisi yang menanamkan disiplin sejak kecil. Ibunya, seorang ibu rumah tangga sederhana, menjadi penyeimbang dengan kasih sayang dan keteguhan moral.
Nilai-nilai itulah yang kini menjadi fondasi cara ia memimpin: tidak bersikap keras tanpa alasan, tetapi juga tidak gentar menghadapi situasi berat.
Lingkungan keluarga juga membentuk semangat berprestasinya Weldi dan saudara-saudaranya berhasil meraih karier di institusi keamanan negara — dua kakaknya dan adiknya lolos melalui Akpol dan Akmil.
Semasa sekolah di SD 10 Alai Timur dan SMP 12 Padang, Weldi dikenal sebagai anak yang tekun dan berprestasi. Sejak SD Weldi selalu menjadi juara kelas. Ketekunan itu terbawa hingga SMA 3 Padang, tempat ia menimba ilmu sebagai siswa angkatan 1999.
Siapa sangka seorang anak dari kompleks asrama sederhana itu kelak akan memimpin ribuan personel dan memegang tanggung jawab keamanan sebuah kabupaten.
Karier kepolisian Weldi tidak dimulai dari jalur instan. Ia memulai dari jalur Bintara—jalur yang pada umumnya ditempuh dengan kerja keras lebih panjang. Namun dedikasi dan ketekunannya mendorongnya hingga akhirnya diterima di Akademi Kepolisian dan lulus pada 2006.
Setelahnya, karier Weldi berkembang cepat. Ia ditugaskan di Mabes Polri, kemudian di Polda Kalimantan Selatan, khususnya di bidang reserse yang menuntut kecermatan dan keberanian. Weldi Rozika dipercaya menduduki jabatan Kasubdit 2 Krimsus Polda Kalsel—posisi yang biasanya ditempati perwira berpengalaman.
Saat dilantik sebagai Kapolres Tapin dan sertijab pada 9 Juli 2025, Weldi membawa tiga agenda besar yakni (1) Pelayanan publik yang cepat dan transparan, (2) Pemberantasan narkoba dan (3) Pendekatan komunikasi langsung dengan masyarakat.
Ia memperkuat Quick Response Unit, memastikan setiap laporan warga harus tertangani cepat. Weldi menegaskan bahwa tidak boleh ada laporan yang diabaikan. Kecepatan merupakan bentuk penghormatan kepada masyarakat.
Program ini membuahkan hasil. Tingkat pengaduan masyarakat meningkat, tetapi justru menandakan kepercayaan yang lebih besar terhadap Polres Tapin.
Dalam internal Polres Tapin, Weldi memperketat aturan mengenai gaya hidup mewah. Ia melarang anggotanya memperlihatkan gaya hidup hedonis, baik di masyarakat maupun di media sosial.
“Polri harus jadi teladan. Masyarakat melihat bukan hanya kerja, tapi juga perilaku kita. Kalau kita pamer kemewahan, bagaimana mungkin kita dihormati?” ungkapnya.
Pesannya tegas namun diterima. Banyak anggota mengaku lebih berhati-hati dan lebih introspektif dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Weldi percaya bahwa keamanan bukan hanya urusan polisi—tetapi urusan kolektif bersama masyarakat. Karena itu, ia rajin turun ke lapangan, menggelar Jumat Curhat, berdialog dengan tokoh agama, pemuda, pelaku usaha, hingga warga desa.
Kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Muthi’ul Huda dan pertemuan dengan ulama karismatik KH. Ahmad Barmawi menjadi momen penting dalam penguatan sinergi antara Polres dan masyarakat Tapin.
“Kami tidak hanya hadir saat ada masalah. Kami hadir untuk menjalin hubungan baik. Itu kunci menjaga daerah tetap kondusif,” ucapnya.
Tapin adalah wilayah perlintasan strategis antar kabupaten, yang membuatnya rawan disusupi jaringan narkoba. Weldi tidak tinggal diam. Ia memperkuat operasi pemberantasan narkoba, menertibkan jalur-jalur rawan, dan gencar menggelar sosialisasi di sekolah serta desa.
Meski memegang jabatan strategis, Weldi tak pernah merasa jauh dari bawahannya. Ia rutin melakukan coaching, pembinaan mental rohani, dan membuka ruang diskusi untuk seluruh anggota.
Dalam berbagai kesempatan, ia tidak segan menegur anggota yang melanggar disiplin. Bahkan, ia memimpin langsung upacara PTDH untuk personel yang melanggar berat.
“Keadilan dimulai dari internal. Kalau salah, ya diproses. Tidak ada pengecualian,” tegasnya.
Sejak kepemimpinan AKBP Weldi, banyak warga menilai Polres Tapin lebih terbuka, lebih cepat bekerja, dan lebih dekat. Keamanan semakin stabil, dan sinergi pemerintah–masyarakat tumbuh lebih kuat.
Bagi masyarakat Tapin, kehadiran AKBP Weldi bukan sekadar pergantian pejabat. Ia membawa harapan baru tentang wajah kepolisian yang modern, bersih, dan mengedepankan empati.
“Tugas kami bukan hanya menjaga keamanan, tapi juga menjaga kepercayaan. Selama saya diberi amanah, itu yang akan terus saya perjuangkan,” pungkasnya.(*)
Editor :Andry