Jemaah Haji Kecewa, Pelaksanaan Armuzna 2026 Dinilai Semrawut dan Minim Pengaturan
Tampak Jemaah berdesakan mencari bus nya masing-masing. saat proses perpindahan jemaah dari Arafah, Muzdalifah, hingga Mina (Armuzna).
SIGAPNEWS.CO.ID | MAKKAH — Kekecewaan mendalam dirasakan sejumlah jemaah haji Indonesia pada pelaksanaan puncak ibadah haji tahun 1447 H/2026 M, khususnya saat proses perpindahan jemaah dari Arafah, Muzdalifah, hingga Mina (Armuzna). Sejumlah jemaah menilai pengaturan yang dilakukan panitia haji tahun ini jauh dari harapan dan tidak sesuai dengan skema yang sebelumnya telah disosialisasikan kepada jemaah.
Sejak awal, jemaah telah diinformasikan bahwa pemberangkatan menuju Arafah pada 8 Zulhijah akan dilakukan berdasarkan kloter, kemudian masing-masing kloter dibagi lagi ke dalam bus sesuai rombongan. Skema tersebut disebut bertujuan agar jemaah tetap bersama kelompoknya sehingga memudahkan pengawasan, pendampingan lansia, dan menjaga ketertiban selama proses Armuzna.
Namun pada hari pelaksanaan, kondisi di lapangan justru jauh berbeda dari apa yang dijanjikan. Jemaah berdesakan mencari bus masing-masing, banyak yang terpisah dari rombongan dan keluarganya, bahkan terjadi saling dorong demi mendapatkan tempat di kendaraan.
Situasi yang semestinya tertib dan penuh kekhusyukan berubah menjadi kepanikan akibat lemahnya pengaturan di lapangan.
Kondisi semakin parah saat perpindahan dari Arafah menuju Muzdalifah pada malam 10 Zulhijah. Jemaah mengaku kembali menghadapi kekacauan yang sama. Tidak terlihat pola pengaturan yang jelas, sementara ribuan jemaah saling berebut untuk bisa naik bus lebih dahulu.
“Dari awal dijanjikan semuanya diatur berdasarkan kloter dan rombongan, ternyata di lapangan jemaah dibiarkan berebut sendiri. Banyak lansia terjepit, bahkan ada yang pingsan karena berdesakan,” ujar salah seorang jemaah haji asal Kloter 1 Embarkasi Padang yang cukup merasakan langsung dampak dari kekacauan tersebut.
Kekecewaan memuncak saat pemberangkatan dari Muzdalifah menuju Mina. Di pintu 84, situasi disebut nyaris ricuh akibat membludaknya jemaah yang menunggu bus tanpa kepastian. Adu mulut antarjemaah tak terhindarkan karena semua ingin segera diberangkatkan lebih dahulu.
Sejumlah jemaah menilai petugas haji Indonesia tidak terlihat maksimal dalam mengendalikan situasi. Minimnya koordinasi dan lemahnya pengawasan membuat kondisi di lapangan semakin semrawut dan tidak terkendali.
“Petugas seperti hilang. Jemaah dibiarkan berdesak-desakan tanpa arahan jelas. Ini ibadah besar dunia, tapi pengaturannya seperti tanpa persiapan matang,” ujar jemaah lainnya dengan nada kecewa.
Pengakuan jemaah Kloter 1 Embarkasi Padang menyebutkan, rombongan mereka bahkan menjadi kelompok terakhir yang diberangkatkan menuju Mina sekitar pukul 06.30 waktu Arab Saudi. Ironisnya, bus yang akhirnya membawa mereka disebut bukan kendaraan yang semestinya diperuntukkan bagi jemaah asal Padang.
Menurut pengakuan jemaah, bus tersebut akhirnya dihentikan oleh aparat kepolisian Arab Saudi dan diminta mengangkut jemaah yang masih terlantar agar segera bisa diberangkatkan menuju Mina.
Tidak hanya itu, para jemaah kini juga menyampaikan kekhawatiran terhadap proses pemulangan nanti dari Makkah menuju Jeddah sebelum kembali ke tanah air. Mereka berharap kejadian semrawut saat Armuzna tidak kembali terulang.
“Kami berharap pemberangkatan pemulangan nanti benar-benar diawasi dan diatur dengan baik. Perjalanan dari Makkah ke Jeddah cukup jauh dan bisa memakan waktu berjam-jam. Jangan sampai kami kembali berdiri berdesakan dan bergelantungan di bus seperti saat pemberangkatan Armuzna,” ujar salah seorang jemaah haji asal Kloter 1 Embarkasi Padang yang cukup merasakan dampak kejadian tersebut.
Menurut mereka, kondisi tersebut sangat membahayakan, terutama bagi jemaah lansia yang secara fisik sudah kelelahan setelah menjalani rangkaian ibadah haji. Para jemaah meminta pemerintah dan panitia haji melakukan evaluasi serius terhadap sistem transportasi dan pengaturan massa agar keselamatan serta kenyamanan jemaah lebih diutamakan.
Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar terhadap kesiapan dan profesionalisme penyelenggaraan haji tahun 2026. Banyak jemaah berharap evaluasi menyeluruh dilakukan pemerintah dan panitia haji Indonesia agar kekacauan serupa tidak kembali terulang pada musim haji mendatang.
Ibadah haji seharusnya menjadi momentum sakral yang menghadirkan ketenangan dan kenyamanan bagi jemaah. Namun jika pengelolaan transportasi dan pengaturan massa tidak dipersiapkan secara serius, maka yang muncul justru kelelahan, kepanikan, bahkan membahayakan keselamatan jemaah, khususnya lansia.
Jemaah berharap kritik ini tidak dianggap sekadar keluhan, tetapi menjadi alarm keras bagi penyelenggara haji untuk berbenah. Sebab jutaan umat datang ke Tanah Suci untuk beribadah dengan tenang, bukan untuk menghadapi kekacauan yang terus berulang setiap tahun.(*)
Editor :Andry