Jelang Puncak Haji, Pembimbing Ibadah Kloter 1 Padang Matangkan Manasik Jamaah di Hotel Al Hidayah
Pembimbing Ibadah Kloter 1 Embarkasi Padang, Buya Amora Lubis, berikan pembekalan manasik haji kepada jamaah agar semakin memahami rangkaian ibadah haji dari awal hingga akhir,
SIGAPNEWS.CO.ID | MAKKAH -- Menjelang keberangkatan jamaah menuju Arafah pada 8 Zulhijah, Pembimbing Ibadah Kloter 1 Embarkasi Padang, Buya Amora Lubis, memberikan pembekalan manasik haji kepada jamaah agar semakin memahami rangkaian ibadah haji dari awal hingga akhir, khususnya menjelang fase puncak pelaksanaan haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Kegiatan yang dilaksanakan di Mushala Hotel Al Hedayah Tower 8 lantai 1 tersebut diikuti oleh jamaah Rombongan 7, 8, 9, dan 10. Suasana manasik berlangsung khidmat dan penuh antusias. Para jamaah tampak serius menyimak setiap penjelasan yang disampaikan sebagai bekal menghadapi puncak ibadah haji yang tinggal beberapa hari lagi.
Dalam arahannya, Buya Amora Lubis menegaskan bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang menuntut kesiapan ilmu, kesabaran, keikhlasan, serta ketaatan kepada Allah SWT. Karena itu, setiap jamaah harus memahami tata cara pelaksanaan haji secara benar agar mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah sesuai tuntunan syariat.
"Mulai dari niat ihram hingga tahallul, seluruh jamaah harus memahami tata cara pelaksanaannya agar ibadah haji yang dilaksanakan menjadi sah, sempurna, dan memperoleh ridha Allah SWT," ujarnya.
Buya Amora menjelaskan bahwa rangkaian puncak ibadah haji diawali dengan ihram dan niat haji pada tanggal 8 Zulhijah sebelum jamaah diberangkatkan menuju Padang Arafah. Sejak berniat ihram, jamaah memasuki keadaan suci yang mengharuskan mereka menjaga diri dari berbagai larangan ihram.
Beliau mengingatkan agar jamaah memperhatikan larangan-larangan ihram, seperti tidak memotong rambut dan kuku, tidak memakai wangi-wangian, tidak berburu binatang buruan, tidak melaksanakan akad nikah atau menikahkan orang lain, serta menjauhi hubungan suami istri dan segala hal yang mengarah kepadanya. Jamaah laki-laki juga dilarang mengenakan pakaian berjahit yang membentuk anggota tubuh dan menutup kepala secara sengaja, sedangkan jamaah perempuan tidak diperbolehkan menutup wajah dan memakai sarung tangan selama ihram.
Menurutnya, menjaga larangan ihram merupakan bentuk ketaatan dan kesungguhan seorang hamba dalam memenuhi panggilan Allah SWT. Oleh sebab itu, jamaah diminta untuk senantiasa berhati-hati dalam setiap aktivitas selama berada dalam keadaan ihram.
Pada kesempatan tersebut, Buya Amora juga menjelaskan bahwa wukuf di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah merupakan puncak ibadah haji. Rasulullah SAW bersabda, "Al-Hajju Arafah" (Haji itu adalah Arafah). Karena itu, setiap jamaah wajib berada di kawasan Arafah pada waktu yang telah ditentukan sebagai salah satu rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan.
"Di Arafah, perbanyaklah doa, zikir, istigfar, membaca Al-Qur'an dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Inilah saat terbaik bagi seorang hamba untuk bermunajat dan memperbaiki hubungannya dengan Allah," pesannya.
Setelah wukuf, jamaah akan bergerak menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit dan mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk melontar jumrah. Selanjutnya jamaah diberangkatkan menuju Mina guna melaksanakan mabit dan rangkaian ibadah berikutnya.
Di Mina, jamaah melaksanakan melontar Jumrah Aqabah sebanyak tujuh kali lemparan sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan dan tekad untuk senantiasa menaati perintah Allah SWT. Setelah itu jamaah melaksanakan tahallul awal dengan mencukur atau memotong sebagian rambut kepala sebagai tanda berakhirnya sebagian larangan ihram.
"Tahallul mengandung makna penyucian diri dan simbol ketaatan seorang muslim setelah menyelesaikan rangkaian ibadah yang diperintahkan Allah SWT," jelasnya.
Dalam pemaparannya, Buya Amora kembali mengingatkan enam rukun haji yang wajib dipenuhi oleh setiap jamaah, yaitu ihram, wukuf di Arafah, tawaf ifadah, sa'i antara Bukit Shafa dan Marwah, tahallul, dan tertib. Selain itu terdapat lima wajib haji yang harus dilaksanakan, yakni ihram dari miqat, mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, melontar jumrah, dan tawaf wada' bagi jamaah yang akan meninggalkan Kota Makkah.
Suasana pembekalan berlangsung interaktif. Jamaah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengajukan berbagai pertanyaan terkait pelaksanaan ibadah di Armuzna, mulai dari tata cara wukuf, mabit, lempar jumrah, hingga berbagai kondisi yang mungkin dihadapi di lapangan. Seluruh pertanyaan dijawab secara rinci sehingga jamaah memperoleh pemahaman yang lebih baik dan merasa semakin siap menghadapi puncak ibadah haji.
Kegiatan ini menjadi manasik terakhir bagi jamaah Kloter 1 Embarkasi Padang dari Rombongan 7, 8, 9, dan 10 sebelum memasuki fase Armuzna. Diharapkan seluruh jamaah dapat menjalankan rangkaian ibadah dengan tenang, tertib, menjaga kesehatan, memperbanyak doa dan zikir, serta senantiasa memelihara kekompakan dan kesabaran selama berada di tanah suci.
"Semoga seluruh jamaah diberikan kesehatan, kekuatan, kemudahan, keselamatan, dan kelancaran dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji serta kembali ke tanah air dengan memperoleh haji yang mabrur," tutup Buya Amora Lubis.(*)
Editor :Andry