Transformasi Sejarah Menjadi Lubang Pendidikan
Tambang Dalam Sawahluwung.
SIGAPNEWS.CO.ID | SAWAHLUNTO -- Pada Tahun 2015, PT Bukit Asam (Persero) Tbk Ombilin Mining Site memulai masa hibernasi untuk kegiatan pertambangan di Tambang Dalam Sawahluwung. Di balik Kawasan pertambangan Ombilin, terdapat Tambang Dalam yang pernah menjadi bagian dari aktivitas penambangan batu bara PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Aktivitas penambangan terakhir berlangsung pada 2015. Kini, kawasan tersebut memiliki fungsi baru sebagai ruang pembelajaran dan praktik pertambangan bawah tanah.

Memasuki lorong Tambang Dalam bukan sekadar perjalanan menuju ruang bawah tanah. Setiap langkah membawa peserta menyusuri jejak sejarah pertambangan Ombilin sekaligus memberikan gambaran nyata mengenai kondisi tambang bawah tanah yang selama ini dipelajari secara teoritis.

Belajar dari Kondisi Nyata
Bagi mahasiswa pertambangan, kawasan ini menjadi ruang belajar terbuka. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan Balai Diklat Tambang Bawah Tanah (Kementrian ESDM) dapat mengamati secara langsung kondisi dan karakteristik tambang bawah tanah, sehingga teori di ruang belajar secara nyata dapat dipahami melalui pengalaman lapangan.

Di dalam lorong tambang, peserta mempelajari berbagai aspek pertambangan bawah tanah, mulai dari kondisi bukaan tambang, sistem kerja, keselamatan, hingga teknik operasional. Pengalaman langsung menjadi bagian penting dalam membentuk kompetensi calon tenaga profesional pertambangan.

Ruang Praktik bagi Generasi Tambang
Bekas ruang produksi kini berubah menjadi ruang pendidikan. Tambang yang dahulu menghasilkan batu bara kini menghasilkan sesuatu yang tidak kalah penting: pengetahuan dan pengalaman bagi generasi penerus industri pertambangan.

Pemanfaatan Tambang Dalam juga dilakukan melalui kerja sama dan fasilitasi bagi Balai Diklat Tambang Bawah Tanah, Kementerian ESDM. Kawasan ini menjadi salah satu ruang pembelajaran untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan peserta dalam menghadapi karakteristik pekerjaan tambang bawah tanah.

Setiap sekitar enam bulan sekali, instruktur tambang dari Jepang (Pimpian Perusahaan Perambangan Batubara Jepang) turut hadir mendampingi peserta pelatihan Balai Diklat Tambang Bawah Tanah. Kehadiran instruktur tersebut memberikan perspektif dan pengalaman mengenai praktik pertambangan bawah tanah, khususnya dari negara yang memiliki sejarah dan teknologi panjang dalam pengelolaan tambang bawah tanah.

Pendampingan instruktur Jepang menjadi bagian dari proses pertukaran pengetahuan. Pengalaman praktis dan wawasan pertambangan bawah tanah dibagikan kepada peserta melalui pembelajaran langsung di lapangan. Lorong Tambang Dalam pun menjadi ruang bertemunya pengalaman pertambangan Indonesia dan Jepang.

Di lingkungan tambang bawah tanah, keselamatan bukan sekadar prosedur, melainkan budaya yang harus dipahami dan diterapkan. Peserta pelatihan mendapatkan pengalaman untuk mengenali kondisi kerja bawah tanah serta memahami pentingnya disiplin, komunikasi, prosedur keselamatan, dan kesiapsiagaan dalam setiap aktivitas.

Perubahan fungsi Tambang Dalam menjadi ruang pendidikan menunjukkan bahwa nilai sebuah tambang tidak berakhir ketika kegiatan produksinya selesai. Jejak pertambangan yang tersisa dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang memberikan manfaat bagi dunia pendidikan, pelatihan, dan pengembangan sumber daya manusia. Hal ini ber iringan dengan permintaan skill pertambangan jikala Tambang di Sawahlunto aktif kembali.

Warisan untuk Generasi Mendatang
Hari ini, lorong yang dahulu menjadi tempat para pekerja menambang batu bara menjadi tempat generasi baru belajar tentang pertambangan. Dari tempat ini, pengetahuan terus diwariskan, kompetensi dibangun, dan pengalaman lapangan menjadi bekal bagi para calon tenaga profesional.
Tambang Dalam Ombilin membuktikan bahwa berakhirnya aktivitas produksi bukan berarti berakhirnya manfaat sebuah tambang.
Dahulu, lorong ini menggali batu bara. Kini, lorong ini menggali ilmu.
Sebuah transformasi yang menjadikan bekas tambang bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi ruang pendidikan yang terus memberi kehidupan bagi masa depan.(*)
Editor :Andry