Armuzna Mengajarkan Manusia Saling Menguatkan: Kisah Spiritual Dokter Reva di Armuzna
Reva Rahmadiansyah, jemaah haji asal Pesisir Selatan (kanan)
SIGAPNEWS.CO.ID | PADANG -- Wajah lelah tampak menyelimuti sebagian jemaah haji yang baru tiba di tanah air. Namun di balik kelelahan itu, tersimpan kebahagiaan dan pengalaman spiritual yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Bagi Reva Rahmadiansyah, jemaah haji asal Pesisir Selatan (Pesel) yang tergabung dalam kloter 11 Debarkasi Padang, perjalanan haji tahun ini bukan sekadar menunaikan rukun Islam kelima, melainkan sebuah pelajaran besar tentang kesabaran, keteguhan, dan arti persaudaraan.
Disela-sela kepulangannya ke daerah asal, Senin (15/6/2026) kemaren. Reva berbagi pengalaman selama di tanah suci. Sebagai seorang dokter, ia mengaku mendapatkan pengalaman yang begitu berkesan selama mendampingi dan berinteraksi dengan sesama jemaah, terutama mereka yang telah lanjut usia.
"Sebagai seorang dokter, saya sangat terkesan dan terharu melihat semangat para jemaah, khususnya yang lansia, dalam melaksanakan ibadah haji. Semangat mereka luar biasa. Kami, sesama jemaah dan petugas, saling menguatkan selama menjalankan rangkaian ibadah," ungkapnya.
Menurut Reva, keterbatasan usia dan kondisi fisik tidak menjadi penghalang bagi para jemaah lansia untuk meraih kesempurnaan ibadah. Justru di tengah berbagai tantangan itulah ia menyaksikan keteguhan hati yang menginspirasi.
Ia bercerita bagaimana para petugas dan jemaah saling memberikan motivasi. Mereka terus mendorong satu sama lain agar tetap bersemangat mengikuti setiap rangkaian ibadah, termasuk saat menuju Raudhah, salah satu tempat yang menjadi dambaan banyak jemaah ketika berada di Madinah.
"Kami terus mengajak dan menyemangati mereka untuk beribadah. Ketika melihat para jemaah itu mampu melaksanakan ibadah dengan penuh keyakinan dan semangat, saya merasa mereka mendapatkan kekuatan yang luar biasa dari Allah SWT. Ada energi yang sulit dijelaskan secara logika," tuturnya.
Pengalaman paling membekas bagi Reva terjadi saat menjalani puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau yang lebih dikenal dengan Armuzna. Ditempat inilah jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul dalam suasana yang penuh keterbatasan, namun sarat makna.
Bagi Reva, Armuzna menjadi ruang pembelajaran yang sesungguhnya. Bukan hanya menguji ketahanan fisik, tetapi juga melatih kesabaran dan keikhlasan.
"Di Armuzna saya belajar banyak tentang kesabaran. Di sana kita diuji secara fisik maupun mental. Namun justru dari situ lahir rasa kebersamaan yang sangat kuat," katanya.
Dalam kondisi yang serba sederhana, para jemaah berbagi ruang, berbagi waktu, bahkan berbagi cerita kehidupan. Perbedaan latar belakang, profesi, dan daerah asal seolah melebur menjadi satu ikatan yang sama: sebagai tamu Allah.
Reva mengaku merasakan perubahan hubungan antarsesama jemaah yang begitu cepat dan mendalam. Orang-orang yang sebelumnya hanya saling mengenal nama, perlahan menjadi sahabat perjalanan. Mereka saling membantu, saling mengingatkan, dan saling mendoakan.
"Yang sebelumnya hanya sekadar kenal, di Armuzna berubah menjadi keluarga. Kami merasakan kebersamaan yang sangat kuat. Ketika ada yang kesulitan, yang lain datang membantu. Ketika ada yang lelah, yang lain memberi semangat. Itu yang paling saya rasakan selama menjalani ibadah haji," ujarnya.
Baginya, haji bukan hanya perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan untuk mengenal makna kemanusiaan yang lebih dalam. Di tengah jutaan manusia yang datang dari berbagai bangsa, ia menemukan bahwa persaudaraan dapat tumbuh tanpa sekat.
Kini, setelah seluruh rangkaian ibadah selesai dan kembali ke tanah air, Reva membawa pulang lebih dari sekadar kenangan. Ia membawa pelajaran tentang keteguhan para lansia, keikhlasan dalam beribadah, serta ikatan persaudaraan yang terjalin selama berada di Tanah Suci.
Di balik padatnya rangkaian ibadah dan beratnya perjalanan Armuzna, ia menemukan satu hal yang paling berharga: bahwa haji mengajarkan manusia untuk saling menguatkan, dan dari kebersa. (*)
Editor :Andry