2026 BPS Sebut, Neraca Perdagangan Sumbar Periode Januari Sampai Juni 2026 Tercatat Turun
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar), jalan Khatib Sulaiman, Kota Padang.
SIGAPNEWS.CO.ID | PADANG -- Perkembangan harga konsumen di Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) secara umum pada bulan Juli 2026 mengalami inflasi sebesar 0,07 persen dibanding bulan sebelumnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Nurul Hasanudin, mengatakan dalam Berita Resmi Statistik (BRS) Sumbar, secara tahun kalender (y-to-d) terjadi inflasi sebesar 1,05 persen, dan secara tahunan (y-on-y) terjadi inflasi sebesar 4,12 persen.
"Kelompok transportasi menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi m-to-m di Sumbar," katanya, dalam BRS yang diterima wartawan, Senin (3/8/2026).
Dikatakan, Nurul Hasanudin, bahwa kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,95 persen dan memberikan andil sebesar 0,10 persen dengan komoditas utamanya adalah bensin dan pemeliharaan.
"Dari empat wilayah cakupan Indek Harga Konsumen (IHK) di Sumbar, tiga wilayah yaitu Kabupaten Dharmasraya, Kota Padang dan Kota Bukittinggi mengalami inflasi m-to-m. Dan inflasi tertinggi terjadi di Kota Bukittinggi sebesar 0,28 persen, diikuti Kota Padang (0,09 persen), dan Kabupaten Dharmasraya (0,02 persen)," ucapnya.
Dikatakannya, untuk Kabupaten Pasaman Barat mengalami deflasi sebesar 0,04 persen. Secara y-on-y, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi, dimana kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yaitu sebesar 1,86 persen.
"Sementara secara y-on-y, semua wilayah cakupan IHK mengalami inflasi. Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 4,98 persen, sedangkan terendah terjadi di Kota Padang sebesar 3,82
persen," katanya.
Sementara itu, Kabupaten Pasaman Barat mengalami inflasi sebesar 4,68 persen dan Kota Bukittinggi mengalami inflasi sebesar 4,15 persen.
Sementara Nilai Tukar Petani (NTP) Sumbar, Juli 2026 Capai 132,52, mengalami peningkatan sebesar 0,68 persen dibanding bulan sebelumnya. Peningkatan NTP disebabkan oleh peningkatan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,24 persen, dan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) mengalami penurunan sebesar 0,44 persen.
"Peningkatan NTP secara umum ini disebabkan peningkatan NTP pada sub sektor tanaman pangan dan tanaman perkebunan rakyat. Sementara itu, tiga subsektor lainnya yaitu subsektor hortikultura sub sektor peternakan dan subsektor perikanan mengalami penurunan. Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) Sumatera Barat pada Juli 2026 sebesar 137,49 mengalami penurunan sebesar 0,23 persen dibandingkan bulan sebelumnya," imbuhnya.
Ditanbahkannya, hal ini disebabkan peningkatan harga pada hasil produksi petani (0,24 persen), lebih rendah dibanding peningkatan harga biaya produksi dan penambahan barang modal (0,48 persen).
Untuk perkembangan pariwisata Sumbar Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang melalui Bandara Internasional Minang kabau (BIM) Juni 2026 tercatat sebanyak 7.078 kunjungan, atau turun 8,28 persen, jika dibandingkan dengan Mei 2026 yang tercatat sebanyak 7.717 kunjungan.
Secara kumulatif sepanjang Januari-Juni 2026, total kunjungan wisman yang datang
melalui BIM mencapai 37.170 kunjungan, turun 13,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Sementara jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) tujuan Sumatera Barat pada Juni 2026 tercatat sebesar 2,08 juta perjalanan, atau mengalami peningkatan sebesar 3,83 persen jika dibandingkan
dengan Mei 2026.
Secara kumulatif sepanjang Januari-Juni 2026, jumlah perjalanan wisnus mencapai 12,15 juta perjalanan, naik 3,78 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025.
Indikator pariwisata selanjutnya yang dirilis adalah Perkembangan Tingkat Penghunian Kamar (TPK). Pada hotel klasifikasi bintang, TPK Juni 2026 tercatat sebesar 52,16 persen, naik 5,99 persen poin, jika dibandingkan dengan Mei 2026 yang tercatat sebesar 46,17 persen.
"Sementara itu TPK pada hotel klasifikasi non bintang tercatat sebesar 21,71 persen, naik 4,79 persen poin jika dibandingkan dengan Mei 2026," ujarnya.
Lebih lanjut, Kepala BPS Sumbar, menuturkan, perkembangan transportasi Provinsi Sumbar
indikator selanjutnya perkembangan penumpang angkutan udara melalui BIM.
Penumpang penerbangan domestik yang berangkat melalui BIM pada Juni 2026 tercatat sebanyak 80,26 ribu orang, atau meningkat 32,99 persen jika dibandingkan dengan bulan Mei 2026 yang tercatat
sebanyak 60,35 ribu orang. Untuk penumpang yang datang pada Juni 2026 tercatat sebanyak 72,13 ribu orang, atau meningkat 8,83 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Sementara itu, pada penerbangan internasional, jumlah penumpang yang berangkat pada Juni 2026 tercatat sebanyak 20,68 ribu orang, atau naik 32,91 persen dibandingkan Mei 2026. Dan untuk penumpang yang datang sebanyak 19,82 ribu orang, atau naik 39,10 persen dibandingkan Mei 2026.
"Untuk angkutan laut dalam negeri, jumlah barang yang dimuat tercatat sebesar 214,88 ribu ton, atau turun 24,91 persen dibanding Mei 2026. Barang yang dibongkar, pada Juni 2026 tercatat juga mengalami penurunan, yaitu turun sebesar 21,74 persen jika dibandingkan bulan lalu, dari 375,04 ribu ton pada Mei 2026 menjadi 293,52 ribu ton pada Juni 2026," lanjutnya.
Keberangkatan penumpang kereta api pada Juni 2026 tercatat sebanyak 226,91 ribu orang, atau naik 14,23 persen dibandingkan Mei 2026. Sedangkan jumlah barang yang diangkut dengan moda kereta api tercatat juga mengalami penurunan 25,38 persen secara month to month.
Disisi lain, perkembangan ekspor impor Provinsi Sumbar dan nilai ekspor Sumbar sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai US$1.568,05 juta, mengalami peningkatan 22,33 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesarUS$1.281,78
juta.
"Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mengalami peningkatan 26,23 persen. Sepanjang Januari-Juni 2026, lima negara yang menjadi tujuan utama ekspor Sumbar adalah India (US$385,12 juta), Pakistan (US$239,84 juta), Tiongkok (US$201,09 juta), Bangladesh
(US$173,00 juta) dan Myanmar (US$136,65 juta),"imbuhnya.
Tiga komoditas utama ekspor Sumbar pada Januari-Juni 2026 adalah golongan lemak dan minyak Hewan atau nabati (HS 15), berbagai produk kimia (HS 38) dan karet dan barang dari karet (HS 40) yang
memberikan share masing-masing sebesar 85,39 persen, 3,53 persen dan 3,07 persen.
Selanjutnya, nilai impor Sumbar pada Januari-Juni 2026 mencapai US$599,48 juta, mengalami peningkatan 166,26 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Andil utama peningkatan nilai impor
ini disumbang oleh impor bahan baku/penolong. Impor bahan baku atau penolong ini secara kumulatif mengalami peningkatan 154,32 persen.
"Sepanjang Januari-Juni 2026, lima negara yang merupakan negara asal impor Sumbar adalah Singapura (US$350,33 juta), Malaysia (US$157,18 juta), Argentina (US$32,48 juta) dan Kanada (US$21,13 juta) dan Australia (US$7,26 juta),"pungkasnya.
Tak hanya itu, tiga komoditas utama impor Sumbar pada Januari-Juni 2026 adalah golongan bahan bakar Mineral (HS 27) dan ampas atau sisa industri makanan (HS23) dan pupuk (HS 31) yang memberikan share
masing-masing sebesar 84,21 persen, 7,43 persen dan 3,49 persen.
Sedangkan, neraca perdagangan Sumbar pada periode Januari-Juni 2026 mencapai US$968,57 juta, atau lebih rendah jika dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebesar US$1.056,64 juta, yaitu turun US$88,07 juta.(*)
Editor :Andry