Juni 2026 Sumbar Alami Inflansi 0,50 Persen : Transportasi, Makanan dan Minuman Penyumbang Inflasi
Kantor BPS Sumbar.
SIGAPNEWS.CO.ID | PADANG -- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) mencatat perkembangan harga konsumen di Sumbar secara umum pada Juni 2026, mengalami inflasi sebesar 0,50 persen dibanding bulan sebelumnya (m-to-m).
Sementara itu, secara tahun kalender (y-to-d), inflasi sebesar 0,98 persen, dan secara tahunan (y-on-y) terjadi inflasi sebesar 4,70
persen.
Kepala BPS Sumbar Nurul Hasanudin mengatakan, kelompok transportasi menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi m-to-m di Sumbar.
Lelompok ini mengalami inflasi sebesar 1,77 persen dan memberikan andil sebesar 0,19 persen dengan komoditas utamanya adalah bensin dan tarif angkutan udara. Selain kelompok transportasi, kelompok makanan, minuman dan tembakau juga menjadi salah satu penyumbang terjadinya inflasi m-to-m, yang mengalami inflasi sebesar 0,40 persen dan memberikan andil sebesar 0,13 persen, dengan komoditas utamanya adalah cabai merah dan tomat.
"Secara y-on-y, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi, dimana kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yaitu sebesar 2,54 persen,"katanya, Rabu (1/6/2026).
Ia mengatakan, seluruh kabupaten kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumbar mengalami inflasi secara m-to-m.
"Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 1,01 persen, diikuti Kabupaten Dharmasraya (0,61 persen) Kota
Padang (0,36 persen) dan Kota Bukittinggi (0,35 persen)," katanya.
Disisi lain Nilai Tukar Petani (NTP) di Sumbar Juni 2026 mencapai 131,62.
Hal ini mengalami peningkatan sebesar 0,68 persen dibanding bulan sebelumnya. Peningkatan NTP ini disebabkan peningkatan harga hasil produksi petani yaitu 1,36 persen lebih besar dibandingkan peningkatan untuk kebutuhan konsumsi maupun biaya produksi dan penambahan barang modal (0,68 persen).
Peningkatan NTP secara umum ini disebabkan peningkatan NTP pada subsektor tanaman perkebunan rakyat. Sementara itu, empat subsektor lainnya yaitu subsektor tanaman pangan, subsektor hortikultura, subsektor peternakan dan subsektor perikanan mengalami penurunan.
Pada Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) di Sumbar Juni 2026 sebesar 137,81 mengalami peningkatan sebesar 0,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini disebabkan peningkatan harga pada hasil
produksi petani (1,36 persen), lebih besar dibanding peningkatan harga pada penambahan barang modal (1,03 persen).
Selain itu, perkembangan Pariwisata Provinsi Sumbar, untuk jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pada Mei 2026 tercatat sebanyak 7.717 kunjungan, atau naik 34,68 persen jika dibandingkan dengan April 2026 yang tercatat sebanyak 5.730 kunjungan.
"Secara kumulatif sepanjang Januari-Mei 2026, total kunjungan wisman yang datang melalui BIM mencapai 30.092 kunjungan, turun 12,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025,"katanya.
Disebutkan, jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) tujuan Sumbar pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,00 juta perjalanan, atau mengalami peningkatan sebesar 6,21 persen jika dibandingkan dengan April 2026.
Secara kumulatif sepanjang Januari-Mei 2026, jumlah perjalanan wisnus mencapai 10,07 juta perjalanan, naik 0,41 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025.
Indikator pariwisata selanjutnya yang dirilis adalah Perkembangan Tingkat Penghunian Kamar (TPK). Pada hotel klasifikasi bintang, TPK Mei 2026 tercatat sebesar 46,17 persen, naik 0,35 persen poin jika dibandingkan dengan April 2026 yang tercatat sebesar 45,82 persen. Sementara itu TPK pada hotel
klasifikasi non bintang tercatat sebesar 16,92 persen, turun 0,91 persen poin jika dibandingkan dengan April 2026.
Dijelaskannya, untuk penumpang penerbangan domestik yang berangkat melalui BIM pada Mei 2026 tercatat sebanyak 60,35 ribu orang, atau turun 30,44 persen jika dibandingkan dengan bulan April 2026 yang tercatat sebanyak 86,76 ribu orang. Untuk penumpang yang datang pada Mei 2026 tercatat sebanyak 66,28 ribu orang, atau
turun 1,65 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Sementara itu, pada penerbangan internasional, jumlah penumpang yang berangkat pada Mei 2026 tercatat sebanyak 15,56 ribu orang, atau turun 12,63 persen dibandingkan April 2026 dan untuk penumpang yang datang sebanyak 14,25 ribu orang, atau turun 6,72 persen dibandingkan April 2026.
"Untuk angkutan laut dalam negeri, jumlah barang yang dimuat tercatat sebesar 286,15 ribu ton, atau naik 25,83 persen dibanding April 2026. Barang yang dibongkar, pada Mei 2026 tercatat juga mengalami peningkatan, yaitu naik sebesar 6,57 persen jika dibandingkan bulan lalu, dari 351,91 ribu ton pada April 2026 menjadi 375,04 ribu ton pada Mei 2026," jelasnya.
Selanjutnya, keberangkatan penumpang kereta api pada Mei 2026 tercatat sebanyak 198,65 ribu orang, atau turun 1,80 persen dibandingkan April 2026. Sedangkan jumlah barang yang diangkut dengan moda
kereta api tercatat juga mengalami peningkatan 27,17 persen secara month to month.
Kepala BPS Sumbar secara rinci menhelaskan, nilai ekspor Sumbar sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai US$1.181,63 juta, mengalami peningkatan 16,10 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar US$1.017,81 juta.
Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mengalami peningkatan 17,02 persen. Sepanjang Januari-Mei 2026, lima negara yang menjadi tujuan utama ekspor Sumatera Barat adalah India (US$271,30 juta), Pakistan (US$195,53 juta), Myanmar (US$130,97 juta), Mesir
(US$129,23 juta) dan Bangladesh (US$121,05 juta).
"Tiga komoditas utama ekspor Sumbar Januari-Mei 2026 adalah golongan lemak dan minyak hewan nabati (HS 15), karet dan barang dari karet (HS 40) dan berbagai produk kimia (HS 38) yang memberikan share masing-masing sebesar 83,75 persen, 3,70 persen dan 3,63 persen. Ekspor ketiga
golongan ini jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya mengalami peningkatan secara nilai dan volume.
Pada nilai impor Sumbar pada Januari-Mei 2026 mencapai US$480,78 juta, mengalami
peningkatan 182,18 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Andil utama peningkatan nilai impor ini disumbang oleh impor bahan baku penolong. Impor bahan baku penolong ini secara kumulatif mengalami peningkatan 173,36 persen. Sepanjang Januari-Mei 2026, lima negara yang merupakan negara asal impor Sumatera Barat adalah Singapura (US$293,18 juta), Malaysia (US$112,12 juta), Argentina (US$24,96 juta) dan Kanada (US$21,13 juta) dan Australia (US$7,26 juta).
Tiga komoditas utama impor Sumatera Barat pada Januari-Mei 2026 adalah Golongan Bahan Bakar Mineral (HS 27), dan Ampas sisa Industri Makanan (HS23) dan Pupuk (HS 31) yang memberikan share masing-masing sebesar 83,84 persen, 6,21 persen dan 4,36 persen.
Neraca perdagangan Sumbar pada periode Januari-Mei 2026 mencapai US$700,85 juta, atau lebih rendah jika dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebesar US$847,43 juta, yaitu turun US$146,58 juta.(*)
Editor :Andry