BPS Paparkan Inflansi di Sumbar
Kepala BPS Sumbar diwawancari wartawan.
SIGAPNEWS.CO.ID | PADANG -- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mengalami inflasi selama Agustus 2025 hingga Agustus 2026, sebesar 3,76 Persen (y-on-y).
Secara umum besaran inflasi sebesar 0,18 persen dibanding bulan sebelumnya. Sementara itu, secara tahun kalender (y-to-d) terjadi inflasi sebesar 1,23 persen.
Nurul Hasanudin mengatakan, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi m-to-m di Sumbar. Dimana kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,33 persen dan memberikan andil sebesar 0,12 persen dengan komoditas utamanya adalah daging ayam ras dan cabai rawit.
Dikatakannya, semua wilayah cakupan Indek Harga Konsumen (IHK) di Sumbar, yaitu Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten
Pasaman Barat, Kota Padang dan Kota Bukittinggi mengalami inflasi m-to-m.
"Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 0,46 persen, sedangkan terendah terjadi di Kota Padang (0,10 persen). Sementara itu, Kota Bukittinggi mengalami inflasi 0,20 persen dan Kabupaten Dharmasraya 0,11 persen," katanya, Senin (1/9/2026).
Secara y-on-y, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi, dimana kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yaitu sebesar 1,44 persen.
Sementara secara y-on-y, semua wilayah cakupan IHK mengalami inflasi. Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 4,34 persen, sedangkan terendah terjadi di Kota Padang sebesar 3,55 persen. Sementara itu, Kabupaten Pasaman Barat mengalami inflasi sebesar 4,11 persen dan Kota Bukittinggi mengalami inflasi sebesar 3,78 persen.
Disisi lain, Nilai Tukar Petani (NTP) di Sumbar, Agustus 2026 mencapai 133,37, mengalami peningkatan sebesar 0,64 persen dibanding bulan sebelumnya.
Peningkatan NTP disebabkan oleh peningkatan Indeks Harga yang diterima petani (It) sebesar 0,65 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) mengalami peningkatan sebesar 0,001 persen.
"Peningkatan NTP secara umum ini disebabkan subsektor tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, peternakan, dan perikanan. Sementara itu, satu subsektor lainnya yaitu subsektor hortikultura mengalami penurunan," katanya.
Sedangkan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) di Sumbar, Agustus 2026 sebesar 137,93 mengalami peningkatan sebesar 0,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini disebabkan peningkatan harga pada hasil produksi petani (0,65 persen), lebih tinggi dibanding peningkatan harga pada penambahan barang modal (0,32 persen).
Selain itu, BPS Sumbar menjabarkan dalam siaran pers rilis menuturkan, Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Juli 2026 tercatat sebanyak 6.377 kunjungan, atau turun 9,90 persen, jika dibandingkan dengan Juni 2026 yang tercatat sebanyak 7.078 kunjungan.
Secara kumulatif sepanjang Januari-Juli 2026, total kunjungan wisman yang datang melalui BIM mencapai 43.547 kunjungan, turun 14,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Sementara jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) tujuan kabupaten atau kota di Sumbar, Juli 2026 tercatat sebesar 2,15 juta perjalanan, atau mengalami peningkatan sebesar 3,11 persen
"Jika dibandingkan dengan Juni 2026. Secara kumulatif sepanjang Januari-Juli 2026 jumlah perjalanan," tandasnya.
Untuk wisnus mencapai 14,29 juta perjalanan, naik 2,32 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025. Indikator pariwisata selanjutnya yang dirilis adalah Perkembangan Tingkat Penghunian Kamar (TPK). Pada hotel klasifikasi bintang, TPK Juli 2026 tercatat sebesar 51,86 persen, turun 0,30 persen poin jika dibandingkan dengan Juni 2026 yang tercatat sebesar 52,16 persen.
Sementara itu TPK pada hotel klasifikasi non bintang tercatat sebesar 19,53 persen, turun 2,18 persen poin jika dibandingkan dengan Juni 2026.
Perkembangan Transportasi Sumbar, yang menjadi indikator selanjutnya yang dirilis BPS adalah perkembangan penumpang angkutan udara melalui BIM. Dimana tercatat, penumpang penerbangan domestik yang berangkat melalui BIM pada Juli 2026 tercatat sebanyak 76,46 ribu orang, atau turun 4,73 persen jika dibandingkan dengan bulan Juni 2026 yang tercatat sebanyak 80,26 ribu orang.
"Untuk penumpang yang datang pada Juli 2026 tercatat sebanyak 73,94 ribu orang, atau meningkat 2,52 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, pada penerbangan internasional, jumlah penumpang yang berangkat pada Juli 2026
tercatat sebanyak 18,48 ribu orang, atau turun 10,65 persen dibandingkan Juni 2026. Dan untuk penumpang yang datang sebanyak 20,01 ribu orang, atau naik 0,99 persen dibandingkan Juni 2026," imbuhnya.
Untuk angkutan laut dalam negeri, jumlah barang yang dimuat tercatat sebesar 317,58 ribu ton, atau meningkat 47,80 persen dibanding Juni 2026. Barang yang dibongkar, pada Juli 2026 tercatat juga mengalami peningkatan, yaitu naik sebesar 12,82 persen jika dibandingkan bulan lalu, dari 293,52 ribu ton pada Juni 2026 menjadi 331,14 ribu ton pada Juli 2026.
Selanjutnya, keberangkatan penumpang kereta api pada Juli 2026 tercatat sebanyak 217,28 ribu orang, atau turun 4,24 persen dibandingkan Juni 2026. Sedangkan jumlah barang yang diangkut dengan moda kereta api tercatat juga mengalami penurunan 0,58 persen secara month to month.
Perkembangan ekspor impor Sumbar, sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai US$1.937,08 juta, mengalami peningkatan 21,28 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar US$1.597,18 juta. Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mengalami peningkatan 24,66 persen. Sepanjang Januari-Juli 2026, lima negara yang menjadi tujuan utama ekspor adalah India (US$446,29 juta), Tiongkok (US$303,30 juta), Pakistan (US$295,68 juta), Bangladesh (US$186,08 juta) dan Mesir (US$181,84 juta).
Tiga komoditas utama ekspor Sumatera Barat pada Januari-Juli 2026 adalah Golongan Lemak & Minyak Hewan atau Nabati (HS 15), Berbagai Produk Kimia (HS 38) dan Karet dan Barang dari Karet (HS 40) yang memberikan share masing-masing sebesar 85,78 persen, 3,71 persen dan 3,04 persen.
Selanjutnya, nilai impor di Sumbar pada Januari-Juli 2026 mencapai US$695,15 juta, mengalami peningkatan 139,19 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Andil utama peningkatan nilai impor
ini disumbang oleh impor bahan baku atau penolong. Impor bahan baku atau penolong ini secara kumulatif mengalami peningkatan 127,76 persen.
Sepanjang Januari-Juli 2026, lima negara yang merupakan negara asal impor Sumatera Barat adalah Singapura (US$414,89 juta), Malaysia (US$166,93 juta), Argentina
(US$32,48 juta) dan Kanada (US$26,31 juta) dan Brasil (US$12,81 juta).Tiga komoditas utama impor Sumatera Barat pada Januari-Juli 2026 adalah Golongan Bahan Bakar Mineral (HS 27), dan Ampas/Sisa Industri Makanan (HS23) dan Pupuk (HS 31) yang memberikan share masingmasing sebesar 82,79 persen, 7,46 persen dan 3,76 persen.
Neraca perdagangan Sumbar pada periode Januari-Juli 2026 mencapai US$1.241,93 juta, atau lebih rendah jika dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebesar US$1.306,56 juta, yaitu turun US$64,63 juta.(*)
Editor :Andry