Uniknya Pedagang Kaki Lima di Depan Hotel Jamaah Haji Indonesia di Makkah
Pedagang kaki lima menjajakan dagangan mereka di pinggir jalan dan trotoar depan hotel jamaah Indonesia.
SIGAPNEWS.CO.ID | MAKKAH — Suasana di depan hotel-hotel tempat menginap jamaah haji Indonesia di kawasan Aziziyah dan sekitarnya tampak begitu ramai setiap pagi hari, terutama usai Sholat Subuh hingga sekitar pukul 08.00 waktu Makkah. Di waktu itulah para pedagang kaki lima mulai sibuk menggelar dagangan mereka di pinggir jalan dan trotoar depan hotel jamaah Indonesia.
Berbagai barang dijajakan, mulai dari sajadah, peci, tasbih, parfum, sandal, gamis, kurma hingga aneka oleh-oleh khas Arab. Namun yang paling menarik perhatian jamaah justru kehadiran makanan khas Indonesia yang dijual di sekitar hotel.
Aroma gorengan hangat, lontong sayur, bubur kacang hijau, soto, pecal, nasi uduk, nasi kuning, urab, kerupuk hingga berbagai jajanan nusantara lainnya membuat suasana pagi di Makkah terasa seperti berada di kampung halaman sendiri.
Para pedagang berasal dari berbagai negara, namun mereka sudah sangat mengenal selera jamaah Indonesia. Dengan suara lantang dan gaya yang lucu, mereka berlomba menarik perhatian pembeli.
Ada yang berteriak:
“Murah... murah... harga banting... harga Tanah Abang...!”
Ada pula yang sambil mengangkat dagangannya berkata:
“Jokowi... Jokowi... 100 ribu... 20 real...!”
Pedagang lain ikut menyahut:
“Prabowo boleh... Jokowi boleh... ayo beli...!”
Ucapan spontan itu sering membuat jamaah Indonesia tersenyum bahkan tertawa. Nama-nama Presiden Indonesia sengaja disebut untuk menarik perhatian sekaligus memberi tanda bahwa pembayaran bisa menggunakan uang rupiah.
Istilah “uang Jokowi” sendiri sudah sangat dikenal di kalangan pedagang sekitar hotel jamaah Indonesia karena nama Presiden Indonesia yang satu ini cukup familiar di telinga mereka. Kini sebagian pedagang juga mulai menyebut nama Presiden Prabowo untuk menarik perhatian jamaah yang melintas.
Keramaian pagi hari tersebut menjadi pemandangan unik tersendiri di Tanah Suci. Setelah pulang dari Masjidil Haram atau selesai sarapan pagi, banyak jamaah menyempatkan diri berjalan santai sambil melihat-lihat dagangan dan berburu makanan khas Indonesia.
Suasana tawar-menawar berlangsung hangat dan penuh canda. Para pedagang bahkan sudah hafal beberapa kata Indonesia seperti “murah”, “bonus”, “boleh kurang”, “teman Indonesia”, hingga “tidak apa-apa”.
Fenomena ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh dan jumlah jamaah Indonesia di Kota Suci Makkah. Kehadiran jamaah Indonesia tidak hanya membawa semangat ibadah, tetapi juga menghadirkan nuansa budaya nusantara yang terasa hidup di sudut-sudut Kota Suci Makkah.(")
Editor :Andry