Lapas Narkotika Kandi Sawahlunto Butuh Dukungan CSR untuk Perkuat Program Pembinaan Warga Binaan
Kalapas Narkotika Kandi, Ressy Setiawan.
SIGAPNEWS.CO.ID | SAWAHLUNTO - Lapas Narkotika Kandi Sawahlunto membutuhkan dukungan pendanaan melalui program CSR dari berbagai pihak yang tidak mengikat. Hal tersebut disampaikan Kalapas Narkotika Kandi, Ressy Setiawan, dalam jumpa pers yang digelar di aula Lapas Narkotika, Senin (17/11/2025).
Kalapas yang telah lima bulan bertugas di Sawahlunto itu menjelaskan bahwa terdapat sejumlah kendala dalam upaya pembinaan terhadap warga binaan. Tahun 2025 ini, Lapas Narkotika Kandi tengah mengembangkan program pembinaan pembuatan Batik Arang dengan merek Batik Tangsi.
Pemilihan nama tersebut merujuk pada sejarah Sawahlunto pada masa kolonial, ketika para tahanan Belanda ditempatkan di ruang tahanan yang disebut tangsi. Dari sejarah itu pula lahir motif-motif khas seperti jeruji besi dan kawat berduri sebagai simbol ketahanan para tahanan masa penjajahan.
Namun pada 2026, Kemenkumham memberlakukan kebijakan baru bahwa seluruh pembinaan warga binaan harus dilakukan secara mandiri oleh Lapas. Kondisi ini membuat Lapas Narkotika Kandi membutuhkan dukungan dari Pemko Sawahlunto—khususnya Dinas Sosial—serta bantuan CSR untuk mendukung pendanaan peningkatan keterampilan warga binaan.
“Untuk saat ini, Batik Tangsi sudah memiliki cukup banyak peminat. Kami telah mengikutsertakannya dalam festival batik yang digelar di SILO pada rangkaian acara SIMFes, disertai promosi dan pemasaran melalui platform Shopee,” ungkap Ressy.
Selain Batik Tangsi, pihaknya juga berencana mengembangkan berbagai bentuk pembinaan lainnya. Namun dengan jumlah warga binaan yang mencapai 518 orang, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama.
“Karena harus mandiri, tentu kami mengalami keterbatasan. Banyak jenis pembinaan yang perlu diberikan. Harapan kami, ketika warga binaan kembali ke masyarakat, mereka memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk menafkahi diri dan keluarga,” tutupnya.(*)
Editor :Andry