SISSCA 2026 Jadi Mesin Baru UMKM Sawahlunto, Songket Silungkang Dibidik Naik Kelas
Walikoa Sawahlunto saat Conferensi Pers terkait Sawahlunto International Songket Silungkang Carnival (SISSCA) 2026
SIGAPNEWS.CO.ID | SAWAHLUNTO — Sawahlunto tidak ingin Sawahlunto International Songket Silungkang Carnival (SISSCA) 2026 hanya menjadi panggung pertunjukan budaya. Pemerintah Kota Sawahlunto mulai mengarahkan event internasional tersebut sebagai salah satu pengungkit ekonomi kreatif dan penggerak aktivitas UMKM masyarakat.
Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra menegaskan, kemeriahan SISSCA harus meninggalkan dampak ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat. Kehadiran wisatawan, peserta, pelaku seni dan tamu dari berbagai daerah harus menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal untuk meningkatkan transaksi sekaligus memperkenalkan produknya.
“Bagi kami, SISSCA bukan sekadar sebuah agenda pertunjukan atau festival tahunan, tetapi merupakan panggung bagi Sawahlunto untuk memperkenalkan identitas, budaya, dan potensi ekonominya kepada Indonesia bahkan kepada dunia,” ujar Riyanda dalam sambutannya di hadapan pimpinan dan anggota DPRD Kota Sawahlunto, Senin (31/8/2026).
Menurut Riyanda, salah satu kekuatan utama yang dapat diangkat melalui SISSCA adalah Songket Silungkang. Produk budaya yang diwariskan secara turun-temurun tersebut dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk fashion dan ekonomi kreatif yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Songket Silungkang tidak boleh jadi artefak masa lalu,” tegasnya.Ia mengatakan, warisan budaya harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Karena itu, pengembangan desain, kreativitas generasi muda, promosi, hingga pemanfaatan event berskala internasional perlu diarahkan untuk memperluas pasar Songket Silungkang.
“Melalui Songket Silungkang, kita ingin menunjukkan bahwa warisan leluhur tidak berhenti sebagai kenangan masa lalu, tetapi dapat kita hadirkan sebagai kekuatan ekonomi kreatif dan kebanggaan generasi masa kini,” tambahnya.
SISSCA 2026 sendiri memiliki modal promosi yang cukup kuat setelah kembali masuk dalam 125 event unggulan Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata.
Status tersebut membuka peluang bagi Sawahlunto untuk mendapatkan eksposur lebih luas, tidak hanya dari sisi kebudayaan, tetapi juga potensi wisata dan produk ekonomi kreatif daerah.
Riyanda berharap peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para pelaku UMKM dan sektor pariwisata. Menurutnya, sukses SISSCA tidak cukup diukur dari jumlah pengunjung atau kemeriahan acara, tetapi juga dari seberapa besar perputaran ekonomi yang tercipta selama event berlangsung.
“Kita ingin setiap tamu yang datang membawa pulang bukan hanya kenangan tentang sebuah carnival, tetapi juga cerita tentang Sawahlunto yang kaya budaya, kreatif, ramah, dan mampu mengangkat warisan Songket Silungkang ke panggung yang lebih tinggi,” katanya.
Songket Silungkang sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 8 Oktober 2019. Tradisi pembuatannya memiliki filosofi tersendiri melalui aktivitas 5M, yakni Mancolok, Manuriang, Mahani, Maharok, dan Mananun.
Bagi Pemko Sawahlunto, kekayaan sejarah dan budaya tersebut merupakan modal yang harus dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru.
Karena itu, Riyanda mengajak DPRD, pemerintah daerah, pelaku UMKM, pengusaha, insan pariwisata, komunitas, generasi muda hingga masyarakat untuk bersama-sama menyukseskan SISSCA 2026.
“Yang kita kawal bukan hanya penyelenggaraannya, tetapi juga dampaknya bagi masyarakat,” ujarnya. SISSCA yang rutin digelar sejak 2015 dan dipusatkan di kawasan bersejarah PT Bukit Asam Unit Penambangan Ombilin diharapkan menjadi titik temu antara sejarah, budaya, pariwisata dan ekonomi kreatif.
Dengan demikian, SISSCA 2026 tidak sekadar menjadi festival yang selesai ketika panggung dibongkar, tetapi menjadi momentum untuk membawa Songket Silungkang, UMKM dan identitas Sawahlunto masuk ke pasar yang lebih luas.(*)
Editor :Andry