Inflasi Sumbar, Tercatat Sebesar 3,97 persen (y-on-y), Harga Cabai Ikut Beri Andil
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), melaksanakan Berita Resmi Statistik (BRS).
SIGAPNEWS.CO.ID | PADANG -- Perkembangan harga konsumen di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) secara umum pada bulan Oktober 2026 mengalami inflasi sebesar 0,86 persen, dibanding bulan sebelumnya. Sementara itu, secara tahun kalender (y-to-d) terjadi inflasi sebesar 2,70 persen, dan secara tahunan (y-on-y) terjadi inflasi sebesar 3,97 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumbar, Nurul Hasanudin, mengatakan, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi m-to-m di Sumbsr.
Dikatakannya,kelompok ini mengalami inflasi sebesar 2,38 persen dan memberikan andil sebesar 0,80 persen dengan komoditas utamanya adalah cabai merah, cabai rawit, dan cabai hijau.
Semua wilayah cakupan Indek Harga Konsumen (IHK) di Sumbar yaitu Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Pasaman Barat, Kota Padang dan Kota Bukittinggi mengalami inflasi m-to-m. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 1,42 persen, diikuti Kota Padang (0,78 persen); Kabupaten Dharmasraya (0,59 persen) dan Kota Bukittinggi (0,55 persen).
"Secara y-on-y, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi, dimana kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yaitu sebesar 2,05 persen,",katanya, Senin (2/11/2026).
Sementara secara y-on-y, semua wilayah cakupan IHK mengalami inflasi. Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 5,25 persen, sedangkan terendah terjadi di Kota Padang sebesar 3,60 persen. Sementara itu, Kabupaten Pasaman Barat mengalami inflasi sebesar 4,61 persen dan Kota Bukittinggi mengalami inflasi sebesar 3,83 persen.
*Nilai Tukar Petani Sumatera Barat, September 2026 Capai 133,63*
Nilai Tukar Petani (NTP) di Sumbar, Oktober 2026 sebesar 133,63 atau naik 0,04 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Peningkatan NTP disebabkan oleh peningkatan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,98 persen, lebih besar dari peningkatan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) (0,94 persen).
Peningkatan NTP secara umum ini disebabkan peningkatan NTP pada subsektor hortikultura. Sementara itu, sub sektor tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan mengalami penurunan.
Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) di Sumbar pada Oktober 2026 sebesar 140,44 mengalami peningkatan sebesar 0,90 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
"Hal ini disebabkan peningkatan harga pada hasil produksi petani (0,98 persen), lebih tinggi dibanding peningkatan harga pada penambahan barang modal (0,08 persen)," pungkasnya.
*Perkembangan Pariwisata Provinsi Sumatera Barat*
Sedangkan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pada September 2026 tercatat sebanyak 7.488 kunjungan, atau turun 26,71 persen jika dibandingkan dengan Agustus 2026 yang tercatat sebanyak 10.217 kunjungan.
Secara kumulatif sepanjang Januari-September 2026, total kunjungan wisman yang datang melalui BIM mencapai 61.252 kunjungan, turun 10,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Sementara jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) tujuan kabupaten/kota di Sumbar pada September 2026 tercatat sebesar 1,77 juta perjalanan, atau mengalami penurunan sebesar 7,10 persen jika dibandingkan dengan Agustus 2026.
" Secara kumulatif sepanjang Januari-September 2026, jumlah perjalanan wisnus mencapai 17,96 juta perjalanan, naik 3,84 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025,"imbuhnya.
Indikator pariwisata selanjutnya yang dirilis adalah Perkembangan Tingkat Penghunian Kamar (TPK). Pada hotel klasifikasi bintang, TPK September 2026 tercatat sebesar 48,44 persen, turun 1,64 persen poin jika dibandingkan dengan Agustus 2026 yang tercatat sebesar 50,08 persen. Sementara itu TPK pada hotel klasifikasi non bintang tercatat sebesar 16,22 persen, turun 0,65 persen poin jika dibandingkan dengan Agustus 2026.
*Perkembangan Transportasi Provinsi Sumatera Barat*
Perkembangan penumpang angkutan udara melalui BIM. Penumpang penerbangan domestik yang berangkat melalui BIM pada September 2026 tercatat sebanyak 64,45 ribu orang, atau turun 14,51 persen jika dibandingkan dengan bulan Agustus 2026 yang tercatat sebanyak 75,39 ribu orang.
"Untuk penumpang yang datang pada September 2026 tercatat sebanyak 63,37 ribu orang, atau turun 14,78 persen dibandingkan bulan sebelumnya,"pungkasnya.
Sementara itu, pada penerbangan internasional, jumlah penumpang yang berangkat pada September 2026 tercatat sebanyak 18,38 ribu orang, atau turun 8,76 persen dibandingkan Agustus 2026. Dan untuk penumpang yang datang sebanyak 15,82 ribu orang, atau turun 23,02 persen dibandingkan Agustus 2026.
Pada angkutan laut dalam negeri, jumlah barang yang dimuat tercatat sebesar 342,68 ribu ton, atau naik 14,57 persen dibanding Agustus 2026. Sedangkan barang yang dibongkar, pada September 2026 tercatat mengalami penurunan, yaitu turun sebesar 7,01 persen jika dibandingkan bulan lalu, dari 346,69 ribu ton pada Agustus 2026 menjadi 322,39 ribu ton pada September 2026.
Selanjutnya, keberangkatan penumpang kereta api pada September 2026 tercatat sebanyak 182,41 ribu orang, atau turun 4,74 persen dibandingkan Agustus 2026. Sedangkan jumlah barang yang diangkut dengan moda kereta api tercatat juga mengalami penurunan 10,22 persen secara month to month.
*Perkembangan Ekspor Impor Provinsi Sumatera Barat*
Nilai ekspor Sumbar sepanjang Januari-September 2026 mencapai US$2.648,83 juta, mengalami peningkatan 26,20 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar US$2.098,87 juta.
Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mengalami peningkatan 27,52 persen. Sepanjang Januari-September 2026, lima negara yang menjadi tujuan utama ekspor Sumbar adalah India (US$581,86 juta), Pakistan (US$471,99 juta), Tiongkok (US$424,11 juta), Bangladesh (US$297,23 juta) dan Mesir (US$227,43 juta).
"Tiga komoditas utama ekspor Sumatera Barat pada Januari-September 2026 adalah Golongan Lemak & Minyak Hewan/Nabati (HS 15), Berbagai Produk Kimia (HS 38) dan Karet dan Barang dari Karet (HS 40) yang memberikan share masing-masing sebesar 86,72 persen, 3,70 persen dan 2,70 persen," ujarnya.
Selanjutnya, nilai impor Sumbar pada Januari-September 2026 mencapai US$899,92 juta, mengalami peningkatan 115,05 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Andil utama peningkatan nilai impor ini disumbang oleh impor bahan baku/penolong. Impor bahan baku/penolong ini secara kumulatif mengalami peningkatan 107,50 persen.
Sepanjang Januari-September 2026, lima negara yang merupakan negara asal impor Sumbar adalah Singapura (US$521,98 juta), Malaysia (US$248,04 juta), Argentina (US$36,84 juta) dan Kanada (US$26,95 juta) dan Brasil (US$18,52 juta).
Tiga komoditas utama impor Sumbar pada Januari-September 2026 adalah Golongan Bahan Bakar Mineral (HS 27), dan Ampas/Sisa Industri Makanan (HS23) dan Pupuk (HS 31) yang memberikan share masing-masing sebesar 84,78 persen, 7,31 persen dan 2,94 persen.
Neraca perdagangan Sumatera Barat pada periode Januari-September 2026 mencapai US$1.748,92 juta, atau lebih tinggi jika dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebesar US$1.680,40 juta, yaitu naik US$68,51 juta.
*Produksi Padi Sumbar Tahun 2026 diperkirakan Meningkat (Angka Sementara, Hasil KSA Amatan September 2026)*
Berdasarkan hasil Survei KSA, realisasi luas panen padi sepanjang Januari-September 2026 mencapai sebesar 220.724 hektare, atau mengalami penurunan sekitar 13.361 hektare (5,71 persen) dibandingkan Januari-September 2025 yang sebesar 234.084 hektare.
Sementara itu, potensi luas panen padi pada Oktober-Desember 2026 diperkirakan sekitar 63.407 hektare,sehingga total luas panen padi pada 2026 diperkirakan sebesar 284.130 hektare atau mengalami kenaikan sebesar 55 hektare (0,02 persen) dibanding 2025 yang sebesar 284.076 hektare. Produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP) ataupun Gabah Kering Giling (GKG) pada periode yang sama juga menunjukkan peningkatan.
Produksi padi di Provinsi Sumbar sepanjang Januari hingga Desember 2026 diperkirakan mencapai sekitar 1.626.979 ton GKP, atau mengalami kenaikan sebanyak 35.096 ton GKP (2,20 persen) dibandingkan 2025 yang sebesar 1.591.883 ton GKP. Pada Januari-September 2026 produksi padi mencapai 1.264.468 ton GKP, atau mengalami penurunan sebanyak 34.076 ton GKP (2,62 persen) dibandingkan Januari-September 2025 yang sebesar 1.298.544 ton GKP.
Sementara itu, berdasarkan amatan fase tumbuh padi hasil Survei KSA September 2026, potensi produksi padi sepanjang Oktober– Desember 2026 sebanyak 362.511 ton GKP.
Adapun dalam bentuk GKG, produksi padi Januari-Desember 2026 diperkirakan mencapai sekitar 1.413.181 ton GKG, atau mengalami kenaikan sebanyak 30.484 ton GKG (2,20 persen) dibandingkan 2025 yang sebesar 1.382.697 ton GKG. Produksi padi di Sumbar sepanjang Januari-September 2026 mencapai sekitar 1.098.307 ton GKG, atau mengalami penurunan sebanyak 29.598 ton GKG (2,62 persen) dibandingkan Januari-September 2025 yang sebesar 1.127.905 ton GKG.
Sementara itu, berdasarkan amatan fase tumbuh padi hasil Survei KSA September 2026, potensi produksi padi sepanjang Oktober–Desember 2026 sebanyak 314.874 ton GKG.
Jika produksi padi dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, maka produksi padi sepanjang Januari–September 2026 diperkirakan setara dengan 635.944 ton beras, atau mengalami penurunan sebanyak 17.138 ton beras (2,62 persen) dibandingkan Januari–September 2025 yang sebanyak 653.082 ton beras. Sementara itu, potensi produksi beras sepanjang Oktober-Desember 2026 yaitu sebanyak 182.319 ton beras.
"Dengan demikian, total produksi beras pada 2026 diperkirakan sekitar 818.264 ton beras, atau mengalami peningkatan sebanyak 17.651 ton beras (2,20 persen) dibandingkan produksi beras pada 2025 yang sebanyak 800.613 ton beras," tutupnya.(*)
Editor :Andry







