Kepala BPS Sumbar Sebut Makanan dan Minuman atau Restoran Pemicu Terjadinya Inflasi
Kantor BPS Sumbar, jalan Khatib Sulaiman, Kota Padang.
SIGAPNEWS.CO.ID | PADANG -- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) mencatat pada April 2026, telah terjadi Inflasi sebesar 0,39 persen (m-to-m).
Sementara itu, secara tahun kalender (y-to-d), deflasi sebesar 0,43 persen, dan secara tahunan (y-on-y) terjadi inflasi sebesar 1,97 persen.
Kepala BPS Sumbar Nurul Hasanudi, mengatakan dalam Berita Resmi Statistik (BRS) menyampaikan, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran menjadi pemicu utama terjadinya inflasi mto-m, yang mengalami inflasi sebesar 1,11 persen dengan andil sebesar 0,12 persen, dengan komoditas utamanya adalah nasi dengan lauk.
Selanjutnya, kelompok transportasi juga memberikan kontribusi yang cukup besar, mengalami inflasi sebesar 0,91 persen dengan andil 0,10 persen dengan komoditas utamanya angkutan udara.Selain kelompok tersebut, kelompok makanan, minuman dan tembakau, kelompok pakaian dan alas kaki, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan dan kelompok penyediaan makanan dan minuman juga mengalami inflasi.
Sementara itu, kelompok, rekreasi, olahraga dan budaya dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi.
Adapun kelompok kesehatan dan kelompok pendidikan tidak mengalami perubahan.
"Terdapat tiga kabupaten/kota IHK di Sumbar mengalami inflasi secara m-to-m. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 0,67 persen, diikuti Kota Padang (0,51 persen) dan Kota Bukittinggi (0,17 persen). Sementara itu, Kabupaten Pasaman Barat mengalami deflasi sebesar 0,02 persen,"katanya, Senin (4/5/2026).
BPS Sumbar juga mencatat, Nilai Tukar Petani (NTP) di Sumbar pada April 2026 mencapai 125,79, yang mengalami peningkatan sebesar 2,14 persen dibanding bulan sebelumnya.
Peningkatan NTP ini disebabkan peningkatan harga hasil produksi petani (2,60 persen) lebih besar dibandingkan peningkatan untuk kebutuhan konsumsi, maupun biaya produksi dan penambahan barang modal (0,44 persen).
"Peningkatan NTP secara umum ini disebabkan peningkatan NTP pada subsektor tanaman pangan, subsektor hortikultura, dan subsektor tanaman perkebunan rakyat, katanya.
Sementara itu, subsektor peternakan dan subsektor perikanan mengalami penurunan. Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) Sumbar pada April 2026 sebesar 130,95 mengalami peningkatan sebesar 1,49 persen.
"Hal ini disebabkan oleh peningkatan harga pada hasil produksi petani (2,60 persen), lebih besar dari peningkatan harga pada penambahan barang modal (1,09)," ujarnya.
Selain itu, perkembangan pariwisata di Sumbar, berdasarkan Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang melalui BIM pada Maret 2026 tercatat sebanyak 5.968 kunjungan, atau naik 30,56 persen jika dibandingkan dengan Februari 2026 yang tercatat sebanyak 4.571 kunjungan.
"Secara kumulatif sepanjang Januari?Maret 2026, total kunjungan wisman yang datang melalui BIM mencapai 16.645 kunjungan, turun 16,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025," tandasnya.
Jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) tujuan Sumbar pada Maret 2026 tercatat sebesar 2,80 juta perjalanan, atau mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan Februari 2026, yaitu sebesar 65,68 persen.
Secara kumulatif sepanjang Januari?Maret 2026, jumlah perjalanan wisnus mencapai 6,17 juta perjalanan, naik 17,03 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025.
Indikator pariwisata selanjutnya yang dirilis adalah Perkembangan Tingkat Penghunian Kamar (TPK).
Pada hotel klasifikasi bintang, TPK Maret 2026 tercatat sebesar 42,90 persen, naik 5,37 poin jika dibandingkan dengan Februari 2026 yang tercatat sebesar 37,53 persen. Sementara itu TPK pada hotel klasifikasi non bintang tercatat sebesar 21,08 persen, naik 8,60 poin jika dibandingkan dengan Februari2026.
Tak hanya itu, perkembangan transportasi di Sumbar,penumpang penerbangan domestik yang berangkat melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pada Maret 2026 tercatat sebanyak 92,40 ribu orang, atau naik 60,06 persen jika dibandingkan dengan bulan Februari 2026 yang tercatat sebanyak 57,73 ribu orang. Untuk penumpang yang datang pada Maret 2026 tercatat sebanyak 115,79 ribu orang, atau naik 89,03 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Sementara itu, pada penerbangan internasional, jumlah penumpang yang berangkat pada Maret 2026 tercatat sebanyak 15,71 ribu orang, atau turun 10,25 persen dibandingkan Februari 2026. Dan untuk penumpang yang datang sebanyak 19,35 ribu orang, atau naik 13,43 persen dibandingkan Februari 2026.
Untuk angkutan laut dalam negeri, jumlah barang yang dimuat tercatat sebesar 347,46 ribu ton, atau naik 34,40 persen dibanding Februari 2026. Barang yang dibongkar, pada Maret 2026 tercatat juga mengalami peningkatan, yaitu naik sebesar 40,72 persen jika dibandingkan bulan lalu, dari 228,16 ribu ton pada Februari 2026 menjadi 321,06 ribu ton pada Maret 2026.
"Keberangkatan penumpang kereta api pada Maret 2026 tercatat sebanyak 188,43 ribu orang, atau naik 24,15 persen dibandingkan Februari 2026. Jumlah barang yang diangkut dengan moda kereta api tercatat juga mengalami peningkatan 79,44 persen secara month to month," ungkapnya.
Perkembangan Ekspor di Sumbar Januari?Maret 2026 mencapai US$788,30 juta, mengalami peningkatan 22,11 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar US$645,56 juta.
Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mengalami peningkatan 23,91 persen. Sepanjang Januari-Maret 2026, lima negara yang menjadi tujuan utama ekspor Sumatera Barat adalah India (US$206,18 juta), Pakistan (US$144,58 juta) Mesir (US$93,33 juta), dan Bangladesh (US$90,04 juta), dan Tiongkok (US$83,33 juta).
Dua komoditas utama ekspor Sumbar pada Januari-Maret 2026 adalah Golongan Lemak dan Minyak Hewan/Nabati (HS 15) dan berbagai produk kimia (HS 38) yang memberikan share masing-masing sebesar 85,89 persen dan 3,22 persen.
"Ekspor kedua golongan ini jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya mengalami peningkatan secara nilai dan volume," tuturnya.
Selanjutnya, nilai impor di Sumbar Januari-Maret 2026 mencapai US$225,35 juta, mengalami peningkatan 156,12 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Andil utama peningkatan nilai impor ini disumbang oleh impor bahan baku/penolong. Impor bahan baku penolong, secara kumulatif mengalami peningkatan 155,59 persen. Sepanjang Januari-Maret 2026, lima negara yang merupakan negara asal impor Sumbar adalah Singapura (US$131,62 juta), Malaysia (US$43,00 juta), Argentina (US$19,15 juta) dan Kanada (US$15,54 juta) dan Australia (US$7,26 juta).
"Tiga komoditas utama impor Sumbar pada Januari?Maret 2026 adalah Golongan Bahan Bakar Mineral (HS 27), dan Ampas/Sisa Industri Makanan (HS23) dan Pupuk (HS 31) yang memberikan share masing-masing sebesar 76,94 persen, 9,61 persen dan 6,81 persen," ucapnya .
Untuk neraca perdagangan Sumbar pada periode Januari-Maret 2026 mencapai US$562,95 juta, atau lebih tinggi jika dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebesar US$557,57 juta, yaitu naik US$5,38 juta.(*)
Editor :Andry