Rantau dan Ritme Ketika Puisi Menjadi Rumah
Ketua DPD SatuPena Sumatra Barat, Sastri Bakry foto bersama dengan Mai White.
SIGAPNEWS.CO.ID | PADANG -- Puisi, ingatan budaya, dan persahabatan internasional berpadu yang digelar di Mini Theater, Youth Center, Padang, dalam acara “Rantau and Rhythm: When Poetry Becomes a Home.”
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD) SatuPena Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) pertemuan dwibahasa ini mengeksplorasi rantau, pengalaman meninggalkan rumah untuk mencari ilmu dan kesempatan sambil tetap menjaga hubungan yang dalam dengan akar.
Kegiatan yang mempertemukan para penyair, penulis, pegiat budaya, dan perwakilan pemerintah daerah untuk sebuah acara pertukaran sastra budaya. Sorotan utamanya adalah sesi khusus yang menampilkan Mai White (Võ Th? Nh? Mai), seorang penyair, penerjemah, pendidik, dan editor Vietnam-Australia, pendiri Multicultural Press Australia dan The Rhythm of Vietnam.
Ketua panitia penyelenggara Basnurida, dilanjutkan dengan sambutan dari Sastri Bakry, Ketua SatuPena Sumatera Barat. Perwakilan dari Pemerintah Kota Padang (pemko) juga menyampaikan ucapan selamat atas nama Wali Kota (wako) yang berhalangan hadir secara langsung.
Dua buku diluncurkan dalam pertemuan tersebut Seven Summits West Sumatra, karya Two Efly dan Azib Fattah Mandala Putra, yang merayakan lanskap pegunungan di wilayah tersebut, dan Smart Book, Augmented Reality karya Rifky S. Jamal dan rekan-rekan, yang mengeksplorasi berbagai kemungkinan inovatif dalam pembelajaran dan penerbitan interaktif.
Tema “Pembacaan Puisi, Kisah Diaspora, dan Konsep Rantau,” Mai White merefleksikan pengalamannya hidup diantara Vietnam dan Australia. Ia menggambarkan bagaimana migrasi dapat memperluas perspektif tanpa menghapus identitas budaya. Vietnam tetap menjadi sumber bahasa, kenangan, dan warisannya, sementara Australia telah menyediakan lingkungan multikultural dimana ia terus membangun koneksi melalui sastra dan pendidikan.
Bagi Mai, puisi menawarkan sebuah rumah yang bisa dibawa orang melintasi batas negara. Melalui kata-kata yang diingat, cerita keluarga, dan emosi yang dibagikan, orang-orang yang tinggal di luar negeri dapat tetap terhubung dengan asal-usul mereka sambil merangkul budaya baru.
Ia menekankan bahwa,melestarikan bahasa ibu dan tradisi harus berjalan seiring dengan keterbukaan, rasa ingin tahu, dan rasa hormat terhadap orang lain.
"Refleksinya beresonansi dengan konsep Minangkabau tentang merantau, dimana meninggalkan kampung halaman menjadi sebuah kesempatan untuk pertumbuhan, kemandirian, dan pembelajaran. Kedua pengalaman tersebut mengungkapkan bahwa rasa memiliki tidak harus terbatas pada satu tempat. Sebaliknya, perjumpaan dengan budaya yang berbeda dapat memperdalam pemahaman kita tentang diri sendiri dan orang lain,"katanya dalam pers rilisnya, Sabtu (10/10/2026).
Dialog puisi yang menampilkan tujuh penyair Sumbar Yeni Ibrahim dengan “100 tahun Jam Gadang ”; Fauzul El Nurca dengan "Lucunya Negeri Ini" Murziyenny dengan “Jembatan Dua Benua”; Nurhayani dengan “Ikatan Tanpa Sekat”; Marniyeti dengan “Perempuan adalah Rumah”; Uncu Munur; dan Rezkya Amelia dengan “Himalaya kepada Asap”. Puncaknya adalah pembacaan puisi oleh Rahmat Zainun Abdullah yang membacakan puisi karya sendiri dengan sangat baik ungkapan perasaannya selama bertugas yang terpisah dengan anak-anaknya. Kontribusi mereka menawarkan beragam perspektif tentang rumah, identitas, ingatan, kerinduan dan koneksi yang melampaui batas geografis dan budaya.
Momen penting adalah penyerahan naskah Multicultural Press Australia kepada Wako Padang, sesuai jadwal pada sesi Mai. Gestur ini melambangkan komitmennya untuk menghubungkan para penulis dan komunitas sastra di Australia, Vietnam, dan Indonesia. Melalui penerbitan multikultural, ia berharap dapat memberikan kesempatan bagi beragam suara untuk menjangkau audiens internasional dan mendorong kolaborasi lebih lanjut di antara penyair, penerjemah, dan organisasi budaya.
Pertemuan ini juga menyoroti peran sastra dan media multikultural dalam menginspirasi generasi muda untuk menghargai warisan mereka sambil menyambut dunia yang lebih luas. Mai percaya bahwa memahami budaya sendiri menciptakan fondasi yang lebih kuat untuk menghargai tradisi orang lain.
Acara ditutup dengan pemberian sertifikat, ucapan terima kasih, dan foto bersama, yang menyatukan diskusi, pembacaan, dan pertukaran budaya pagi itu dalam sebuah pesan bersama: “Puisi Menyatukan Kita — Poetry Brings Us Together.”
Kegiatan yang diselenggarakan oleh DPD SatuPena Sumbar Sumbar Talenta, dan IMLF acara ini menunjukkan bagaimana tradisi sastra lokal dan perspektif internasional dapat saling memperkaya.
Kontribusi para penyair yang berpartisipasi, peluncuran buku, dan refleksi Mai White menciptakan peluang untuk persahabatan dan kerja sama sastra di masa depan.
Bagi Mai, makna yang lebih dalam dari rantau terletak pada menemukan dunia baru tanpa melupakan di mana kisah seseorang bermula. Sebuah puisi dapat menyeberangi perbatasan, sebuah terjemahan dapat membuka pintu, dan sebuah majalah dapat memperkenalkan satu komunitas kepada komunitas lainnya.
Dari Vietnam ke Australia dan Indonesia, pertemuan di Padang menegaskan bahwa puisi dapat membangun jembatan antara budaya, generasi, dan hati. Selain itu, puisi menyatukan kita. Persahabatan memberi masa depan bagi koneksi tersebut.
*Tentang Mai White*
Mai White adalah nama pena dari Võ Th? Nh? Mai, seorang penyair, penerjemah, pendidik, dan editor Vietnam-Australia. Ia adalah pendiri dan editor The Rhythm of Vietnam dan bekerja melalui Multicultural Press Australia untuk mempromosikan sastra, terjemahan, dan pertukaran budaya lintas bahasa dan batas negara.(*)
Editor :Andry