BPS Sumbar Sebut, Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau Penyumbang Utama Inflasi
Kepala BPS Sumbar Nurul Hasanudin.
SIGAPNEWS.CO.ID | PADANG -- Perkembangan harga konsumen di Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) secara umum pada bulan September 2026 mengalami inflasi sebesar 0,60 persen, dibanding bulan sebelumnya.
Sementara itu, secara tahun kalender (Y-to-D) terjadi inflasi sebesar 1,83 persen, dan secara tahunan (Y-on-Y) terjadi inflasi sebesar 3,50 persen.
Kepala BPS Sumbar Nurul Hasanudin, mengatakan, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi M-to-M di Sumbar.
"Dimana kelompok ini mengalami inflasi sebesar 1,77 persen dan memberikan andil sebesar 0,59 persen dengan komoditas utamanya adalah cabai merah, daging ayam ras, beras dan ikan cakalang atau sisik," katanya, Kamis (1/10/2026).
Disebutkan, semua wilayah cakupan Indek Harga Konsumen (IHK) di Provinsi Sumbar, yaitu Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten
Pasaman Barat, Kota Padang dan Kota Bukittinggi mengalami inflasi M-to-M.
"Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 1,11 persen, diikuti Kabupaten Dharmasraya (1,03 persen), Kota
Bukittinggi (0,98 persen) dan Kota Padang (0,33 persen),"imbuhnya.
Secara Y-on-Y, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi, dimana kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yaitu sebesar 1,38 persen.
Sementara secara Y-on-Y, semua wilayah cakupan IHK mengalami inflasi. Inflasi Y-on-Y tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 4,42 persen, sedangkan terendah terjadi di Kota Padang sebesar 3,33
persen. Sementara itu, Kabupaten Pasaman Barat mengalami inflasi sebesar 3,56 persen dan Kota Bukittinggi mengalami inflasi sebesar 3,43 persen.
Selain itu, Nilai Tukar Petani (NTP) Sumbar September 2026 Capai 133,58 atau naik 0,15 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Peningkatan NTP disebabkan oleh peningkatan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,95 persen, lebih besar dari peningkatan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) (0,79 persen).
"Peningkatan NTP secara umum ini disebabkan peningkatan NTP pada sub sektor tanaman perkebunan rakyat dan peternakan. Sementara itu, sub sektor tanaman pangan, hortikultura dan perikanan mengalami penurunan,"tandasnya.
Sedangkan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) pada September 2026 sebesar 139,19 mengalami peningkatan sebesar 0,91 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini disebabkan peningkatan harga pada hasil produksi petani (0,95 persen), lebih tinggi dibanding peningkatan harga pada penambahan barang modal (0,04 persen).
Untuk jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang melalui Bandara Internasional Minamgkabau (BIM) Agustus 2026 tercatat sebanyak 10.217 kunjungan, atau naik 60,22 persen jika dibandingkan dengan Juli 2026 yang tercatat sebanyak 6.377 kunjungan.
Secara kumulatif sepanjang Januari-Agustus 2026, total kunjungan wisman yang datang
melalui BIM mencapai 53.764 kunjungan, turun 8,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Sementara jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) tujuan kabupaten atau kota di Sumbar pada Agustus 2026 tercatat sebesar 1,90 juta perjalanan, atau mengalami penurunan sebesar 11,28 persen jika dibandingkan dengan Juli 2026.
"Secara kumulatif sepanjang Januari-Agustus 2026, jumlah perjalanan wisnus mencapai 16,20 juta perjalanan, naik 3,70 persen dibandingkan dengan periode yang
sama pada tahun 2025,"imbuhnya.
Dijelaskannya, indikator pariwisata selanjutnya yang dirilis adalah Perkembangan Tingkat Penghunian Kamar (TPK). Pada hotel klasifikasi bintang, TPK Agustus 2026 tercatat sebesar 50,08 persen, turun 1,78 persen poin jika dibandingkan dengan Juli 2026 yang tercatat sebesar 51,86 persen. Sementara itu TPK pada hotel klasifikasi non bintang tercatat sebesar 16,87 persen, turun 2,66 persen poin jika dibandingkan dengan Juli 2026.
Disisi lain, perkembangan ekspor sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai US$2.291,03 juta, mengalami peningkatan 19,55 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar US$1.916,44 juta. Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mengalami peningkatan 22,61 persen.
"Sepanjang Januari-Agustus 2026, lima negara yang menjadi tujuan utama ekspor Sumbar adalah India (US$493,73 juta), Pakistan (US$419,98 juta), Tiongkok (US$382,91 juta), Bangladesh
(US$257,77 juta) dan Mesir (US$181,84 juta).
Disebutkan, tiga komoditas utama ekspor untuk golongan lemak dan Minyak hewan atai nabati (HS 15), berbagai produk kimia (HS 38) dan karet dan barang dari karet (HS 40)
yang memberikan share masing-masing sebesar 86,46 persen, 3,72 persen dan 2,76 persen.
Selanjutnya, nilai impor di Sumbar pada Januari-Agustus 2026 mencapai US$784,48 juta, mengalami peningkatan 123,86 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Andil utama peningkatan nilai impor ini disumbang oleh impor bahan baku/penolong. Impor bahan baku/penolong ini secara kumulatif mengalami peningkatan 114,67 persen.
"Sepanjang Januari-Agustus 2026, lima negara yang merupakan negara asal impor di Sumbar adalah Singapura (US$446,89 juta), Malaysia (US$214,29 juta), Argentina (US$32,48 juta) dan Kanada (US$26,52 juta) dan Brasil (US$18,52 juta),"tutupnya.
Tiga komoditas utama impor di Sumbar pada Januari-Agustus 2026 adalah golongan bahan bakar mineral (HS 27), dan Ampas/Sisa Industri Makanan (HS23) dan Pupuk (HS 31) yang memberikan share
masing-masing sebesar 83,43 persen, 7,63 persen dan 3,36 persen.
Neraca perdagangan Sumbar pada periode Januari-Agustus 2026 mencapai US$1.506,55 juta, atau lebih rendah jika dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebesar US$1.566,01 juta, yaitu turun US$59,46 juta.(*)
Editor :Andry